 Thursday, August 14, 2003
OLEH-OLEH DARI KAMPUNG
“Koq kini kamu nggak berminat lagi pada politik, Noy?” tanya Oji suatu hari.
“Bosan, Ji. Bikin pengen muntah saja! Politik sudah banyak peminat, penikmat, pengamat dan pengkhianatnya,” jawabku santai. “Itu-itu melulu. Omong kosong doang.”
Aku mengerti, pertanyaan yang dilontarkan kawanku itu merupakan pertanyaan murni. Murni dari keheranannya atas sikapku sekarang. Bukan mempertanyakan, menggugat atau memprotes perubahan sikapku akhir-akhir ini.
“Aku memilih untuk realistis, Ji, bekerja demi masa depan anak-anakku.”
“Itu pun salah satu sikap politik, Bung!”
Mau dianggap semacam “sikap politik” atau apa kek, terserah. Yang jelas, bagiku, politik tidak lebih dari panggung sandiwara. Para politikus itu hanya memerankan tokoh sesaat demi kepentingan sesaat. Lantas berubah lagi menjadi tokoh lain dalam episode-episode dan tema-tama lainnya, tergantung siapa sutradaranya. Mudah mencampakkan atau menggandeng, menjadi kawan atau lawan. Bongkar-pasang dan gonta-ganti rekanan. Yang penting, kesempatan dan kepentingan, serta aman di masa tua.
***
Oji memang tahu masa mudaku dulu. Aku selalu bangga mengenakan kaos bertuliskan “Di sini Bebas Ngompol (Ngomong Politik)”, “Jangan Takut Bicara Politik” dan “Sak Beja-Bejane Uwong Urip, Luwih Beja Uwong Edan Ning Kuasa”, di saat rezim otoriter mencengkramkan kuku-kuku tajamnya pada setiap sendi kehidupan sosial masyarakat yang seolah memproklamirkan “Politik adalah Panglima”.
Memang, semasa muda, semasa mahasiswa, aku paling getol berceloteh soal politik, meski aku bukan mahasiswa fakultas ilmu politik. Aku sendiri sudah berlangganan koran dan majalah sosial terkemuka di saat kawan-kawan kos lebih tertarik pada pacaran, keluyuran di mal, diskotik, bilyar, nonton vcd serta judi kecil-kecilan di salah satu kamar kos kawanku.
Tak jarang aku tiba-tiba berkomentar mirip komentator di televisi. Bagiku, menjadi komentator politik, tidak usah susah-susah bersekolah di jurusan politik atau berkecimpung langsung sebagai praktisi politik. Bahkan tidak usah susah-susah sekolah di jurusan komentator.
Waktu itu politik merupakan topik yang agak tabu, lebih tabu daripada bacaan cabul serta gambar porno yang bertebaran di kalangan orang muda. Ketika era internet melanda pergaulan masyarakat, mahasiswa-mahasiswa mencari informasi-informasi yang tidak termuat di media massa umum. Semakin kuat tindakan represif penguasa, semakin kuat naluri keingintahuan mahasiswa.
Aku pun tidak mau ketinggalan informasi. Kawan-kawanku selalu datang dengan membawa beberapa fotokopian berita-berita “tak tersensor”. Majalah Independen menjadi salah satu sumber obrolan kami. Namun aksi sempat surut ketika terjadi kasus pembredelan media massa yang dicap PKI, dan mahasiswa mengadakan aksi tiarap.
Menjelang reformasi, kepada kawan-kawanku kukatakan, “Maaf, aku mendahului kalian menyambut reformasi. Inilah reformasi sesungguhnya bagiku, Kawan-kawan.”
Reformasi versiku adalah segera menikah, setelah lulus dan menunggu panggilan kerja. Aku menikahi seorang gadis yang sama sekali tidak peduli soal politik. Aku tidak menuduhnya buta politik. Dan salah satu sebab kenapa aku menikahinya adalah karena aku tidak mau membiarkan hiruk-pikuk perpolitikan itu hanya akan menggerogoti usiaku.
***
Bersamaan dengan masa bulan maduku, saat itu pula gerakan mahasiswa bangkit lagi. Tindakan aparat lebih ngeri lagi. Aparat yang berjubah zirah, berhelm, bersenjata dan berperisai itu garang sekali mengganyang para mahasiswa yang mengadakan unjuk rasa seraya membakar ban-ban bekas di jalanan. Ngeri aku melihat itu semua. Bahkan pernah suatu malam terjadi “jam malam” dan malam terkelam tanpa lampu. Aku pun harus mematikan lampu vespaku agar tidak tiba-tiba disergap orang-orang misterius.
Aku ingat sekali. Jalan Gejayan gelap gulita. Lampu-lampu jalan bertumbangan. Batu-batu dan kayu bertebaran. Kaca jendela bekas gedung Bank Harapan Sentosa hancur lebur. Itulah malam paling mencekam yang mengotori bulan maduku.
Aku menganggapnya sebagai sebuah teror sesungguhnya. Subyeknya murni diperankan aparat dan rakyat. Obyek pelengkap penderitanya adalah para korban, entah seberapa jauh keterlibatan korban tersebut. Semalam suntuk pasukan pengendali kerusuhan menyisiri rumah-rumah penduduk dan kos-kosan mahasiswa di sepanjang jalan Gejayan. Beberapa mahasiswa ditangkap, digebuk dan diculik. Bayang-bayang ketakutan, kengerian, kebringasan, kebencian melanda setiap sudut jalan. Moses Gatotkaca gugur.
Waktu itu dari kampung Sri Pemandang Pucuk ayahku mengirim pesan, menyuruh aku dan istriku pulang saja ke Bangka. Kata ayahku, setiap hari emakku gelisah memikirkan nasib aku dan istriku. Daripada ada apa-apa di Jogja, mending pulang saja ke kampung halaman dan memulai kehidupan baru. Namun aku tetap bertahan.
Sampai ketika reformasi ramai digaungkan, berita dan ulasan politik semakin banyak peminatnya. Menu lezat harian sebagian orang. Bahkan mereka kecanduan seperti halnya kecanduan narkotika. Barangkali politik sudah menjadi semacam pil ektasi, yang dapat membuat pemakainya senang sepanjang waktu sampai-sampai lupa waktu.
***
Keluargaku terbangun atas kesadaran aku dan istriku. Tidak terbangun atas kepentingan-kepentingan sepihak. Dua pribadi, yaitu aku dan istriku, sepakat bersatu dalam satu tujuan utama sebagaimana sebuah keluarga. Anak-anak yang kumiliki bukanlah supaya mereka bisa menafkahi keluarga ibarat pepatah jawa “kebo nyusu gudel”, alias “induk kerbau menyusu dari anaknya”. Kalau aku punya utang, aku dan istriku harus mencari tambahan penghasilan untuk melunasinya, bukannya mewariskan utang pada anak-anakku. Jika anak-anakku kelak memang mampu, alangkah malunya aku dan istriku kalau anak-anakku yang membayar utang keluarga.
Media langganan kami sekeluarga pun sudah naik harga, menyusul kenaikan harga tarif listrik, telepon dan bahan bakar minyak. Belum lagi biaya harian rumah tangga, seperti pangan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Kenaikan rupiah atau penurunan nilai tukar uang Amerika ternyata tidak kemudian menurunkan harga-harga yang sudah telanjur naik itu. Yang namanya keuntungan atau laba, siapapun tergiur dan memakai berjuta alasan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan keuntungan. Apalagi kondisi gaji yang tak jua dientaskan.
Seringkali aku menggerutu pada koran langgananku itu. Isinya berita politik melulu. Isinya kerusuhan melulu. Isinya teori nihil melulu. Isinya omong kosong belaka. Aku membayar uang langganan bukan untuk menikmati simpang siur siaran politik atau juga berita-berita yang menakutkan keluargaku. Politik tidak menyajikan kemajuan apapun terhadap kesejahteraan keluargaku. Menambah wawasan sosial-politik tidaklah menambah pendapatan keluargaku. Banyak mengerti perkembangan politik, tidak lantas banyak meringankan beban biaya penghidupan keluargaku.
Aku ingat, dulu betapa jengkelnya orangtuaku melihat aku ikut-ikutan anti monopoli partai besar jaman itu, sampai-sampai emakku bilang, “Kita selama ini makan dari partai pemerintah, bukan dari partai lainnya.”
Tak pelak nyaliku ciut mirip kura-kura manyun kehilangan rumahnya. Emakku lebih berpikir kenyataan tentang rumah tangga beserta kebutuhan harian keluarga, daripada membentuk oposisi di rumah.
Tak pelak politik menjadi topik yang paling menjijikkan bagiku. Bukan sebatas tayangan harian media kaca di rumahku, baik dari berita maupun dialog-dialognya. Kebetulan anak-anakku lahir saban tahun, sehingga aku ada kesibukan di rumah. Setiap hari selalu kupasang lagu anak-anak. Televisi jarang kunyalakan. Istriku senang sekali.
***
Di lingkungan tinggal kami, saban malam “politikus-politikus” muda mengudarakan obrolan politik. Pemuda-pemuda itu asyik-masyuk berembuk soal politik, bahkan seolah melebihi pakar politik. Minat mereka sangat menggebu-gebu pada politik beserta isu-isunya. Reformasi memungkinkan politik tak lagi tabu.
Ah, mungkin mereka cikal-bakal politikus besar, kendati kesempatan belum sempat mengundang mereka tampil. Mungkin obrolan politik sekadar obat begadang setelah seharian suntuk didera pekerjaan mereka. Maklum, mereka cuma pekerja kasar dengan gaji yang selalu disertai bonus muka kecut bos mereka. Mungkin persaingan mereka dalam pengetahuan umum. Mungkin mengasah kepekaan setelah membaca, mendengar atau melihat sajian berita, entah dari mana mereka memperoleh sumbernya.
Kulihat sisi baiknya pembicaraan tersebut lebih menyita waktu dan pikiran mereka, daripada terlibat kegiatan merusak akhlak, merusak fasilitas umum dan tindakan kriminal malam. Disamping itu, acara kumpul-kumpul itu pun bersamaan dengan aneka kegiatan pemuda. Dari olahraga, kesenian, budaya, membuat spanduk, bagi-bagi kerjaan maupun sekadar meramaikan obrolan, semuanya bercampur aduk dengan politik. Terlebih sejak daerah kami dibanjiri pendatang, yakni mahasiswa yang kos.
Kawan-kawan kantor pun terus saja bicara tentang politik, melebihi pekerjaan rutin mereka. Setiap sebentar membaca judul berita halaman muka koran, segera mereka berkomentar. Pekerjaan belum juga selesai, pembicaraan mereka sudah sampai mengenai rumah para politikus.
Kupikir, mungkin mereka salah bidang pekerjaan. Mungkin mereka kecewa karena tidak kesampaian menjadi politikus. Mungkin untuk gengsi antar pegawai. Mungkin sekadar selingan, mencari hiburan, yang bagi mereka politik itu seringkali menyuguhkan kelucuan-kelucuan dan dihiasi kening-kening berkerut untuk mempertahankan argumentasi mereka.
Makanya, aku bosan bicara atau sekadar mendengar obrolan seputar hiruk-pikuk politik. Sekarang ini perhatian, tugas dan tanggung jawabku sebagai kepala keluarga, warga biasa dan pegawai kantor tidak boleh diserongkan pada urusan politik milik orang-orang. Mengurusi rumah dan pekerjaanku saja aku sudah kelabakan, apalagi perpolitikan Bangsa ini selalu berubah-ubah serta belum berhasil menemukan formasinya.
***
Suatu hari Minggu siang sepulangnya kami sekeluarga dari kebaktian di gereja,
Makcikku (adiknya emakku) dan kedua anaknya berkunjung ke rumah kami. Beliau datang dari kampung pelosok Bangka, bersama tetangga beserta tiga anaknya pun ikut, karena ingin menikmati kehidupan ini, bahwa memang dunia ini tidak seluas kampung halaman mereka belaka. Rencananya mereka akan tinggal beberapa hari di rumah kami.
Tak lupa Makcikku membawa oleh-oleh dari kampung, oleh-oleh khas Bangka, yang membuat hatiku terseret ke suasana kampung halaman yang sedap. Sahang sekarung kecil, sisa tuai bulan lalu. Lempuk cempedak, manisan rukem, asinan klubi, asinan jambu bandar, keranji, kemunting, sambel binjai, juga ada selai nanas. Sedap tentunya. Ya, suasana kampung yang hanya menyuguhkan pola pikir sederhana, tidak susah-susah berpikir urusan selain makan dan pergaulan sekampung.
Makcikku berkisah pula tentang kemajuan kampung semenjak harga-harga sahang melambung dan kebun-kebun kelapa sawit dibuka. Dibarengi pula dengan pelebaran jalan, penambahan angkutan umum lintas kecamatan dan pembangunan rumah-rumah baru bagi pekerja perkebunan kelapa sawit.
Kata Makcikku, para pemuda di sekitar kebun sudah tersalurkan. Tidak ada pemuda menganggur. Aku jadi malu, sebab jauh berbeda dengan di daerah kami. Di daerah kami, bukan kampung tapi kota pun bukan, sebagian besar pemudanya memilih menganggur seraya terus menghidupkan sejuta khayalan setinggi-tingginya kendati pendidikan mereka lebih tinggi dibanding pemuda-pemuda kampung Makcikku.
Kata Makcikku lagi, di kampungnya saban awal bulan selalu ada keramaian, seperti pasar malam, pentas kesenian rakyat, teater dan pagelaran musik. Tokoh masyarakat kampung mengundang beberapa seniman daerah lainnya. Kalau soal hiburan berteknologi mutakhir, mereka tidak mau ketinggalan. Hampir setiap rumah memiliki televisi, perangkat parabola, vcd player dan playstation.
“Eh, mana tadi anak-anak itu?” celetuk tetangga Makcikku.
“Main di luar dengan anak kami. Paling-paling mereka main game internet di depan itu,” sahut istriku sambil menunjuk ke arah jendela depan.
“Main gem? Wah, anakku pilih nggak makan sehari kalau sudah main gem,” serobot Makcikku.
“Sama dengan anakku!” sela tetangga Makcikku pula. “Kalau sudah ketemu gem, bisa-bisa nggak belajar dia. Maunya main geeeeeeeeem terus.”
“Aku sih curiga. Ini mungkin salah satu akal-akalannya politik warisan orde lalu. Anak-anak sengaja dijejalkan dengan permainan-permainan modern. Lihat aja. Buku-buku bermutu dilarang beredar dan media massa kritis diberangus. Tapi kalau permainan ketangkasan macam itu, justru tumbuh subur berhamburan semacam jamur di musim hujan. Apa lagi kalau bukan untuk membodohi generasi muda.”
Akal-akalannya politik warisan orde lalu? Untuk membodohi generasi muda? Aku menoleh ke arah istriku. Kebetulan istriku pun menoleh ke arahku. Aku dan istriku saling berpandangan. Air mukaku kubikin agak runyam, sebagai isyarat bahwa aku agak risih pada bincang-bincang seputar politik. Istriku mengangkat bahunya. Apa boleh buat. Aku dan istriku kembali diam dan melongo mendengar diskusi mereka.
“Iya, benar. Persewaan playstation di kampung kita selalu dipadati oleh anak-anak setiap jam-jam pulang sekolah. Berjam-jam duduk bermain gem, boros waktu. Malas bikin PR. Belajar jarang. Dalam otak hanya ada gem-gem aja!”
“Nggak kayak jaman kita dulu, ya,” kata Makcikku. “Jaman kita dulu anak-anak sudah dibiasakan membuat apa-apa. Menjahit, pelihara kembang, berkebun, bikin kerajinan, membantu ibu di dapur. Para cowoknya juga rajin. Bikin mainan sendiri, melukis, main bola, berkebun. Pokoknya, nggak ada yang duduk sembari menghadap kotak kaca dengan hati penuh kepenasaran yang cuma memboroskan hari.”
“Makanya, akal-akalannya orang-orang tua yang berambisi mempertahankan status mereka sekaligus merusak daya nalar generasi muda bahkan anak-anak. Dasar politikus, banyak tikus!” tandas tetangga Makcikku itu.
“Bagaimana kalau kita, para ibu-ibu, turun ke jalan? Kita gugat kebijakan birokrasi yang telah turut membidani kelahiran ‘generasi terhilang’ yang tengah marak ini. Sepakat?” tawar Makcikku pada tetangganya, lalu menoleh ke arah istriku.
Mendadak aku merasa kepalaku bagai ditinju ribuan palu, dan perutku terasa tidak nyaman. Ada yang tidak beres dalam perutku. Aku dan istriku saling melirik. Kuisyaratkan bahwa aku pening mendengar soal itu, dan aku mau ke belakang dulu. Entah istriku mengerti atau tidak pada bahasa isyaratku, aku bangkit dari kursiku.
“Makcik terus saja dulu, ya,” selaku.
“Lho, mau ke mana?”
“Ke belakang sebentar. Sebentar saja,” jawabku seraya segera kutinggalkan perbincangan seru mereka. Aku sudah tak tahan lagi.
Di kamar mandi aku muntah sepuas-puasnya.
*******
Jogjakarta, 2000-Mei 2002
[cerpen ini belum pernah dimuat di media massa cetak mana pun!]
posted by agustinus at 7:38 AM
SELALU ADA YANG BISA MEMETIK BUAH
Bulan binar menatap bumi nanar, tak jua berhasil menembus hadangan rerimbunan pohon peneduh tepi jalan raya lintas kota itu. Lampu penerang di pinggir jalan sudah lama tidak berfungsi, lantaran sering dijadikan sasaran uji kejituan oleh anak-anak kecil yang sering bermain ketapel. Sedikit kendaraan yang lalu-lalang tatkala sebuah motor bebek mengoyak kelam dengan kecepatan sedang dari arah luar kota.
Jalan raya lintas kota yang dipagari oleh barisan pepohonan itu sebetulnya belum selesai diperbaiki. Dan, ada bekas lubang yang masih dibiarkan separuh menganga. Ya, menganga, bagaikan mulut maut yang suatu waktu siap menelan nyawa orang-orang yang menyenggolnya. Seharusnya ditimbun. Seharusnya. Tapi entah kenapa dibiarkan, seolah sengaja. Juga, tidak ada rambu-rambu sebagai petunjuk adanya lobang, agar dapat diketahui oleh kendaraan yang lalu-lalang di sekitarnya.
Malam semakin tua. Motor bebek masih melaju, dikendarai oleh suami-istri berusia setengah baya yang baru pulang menghadiri resepsi pernikahan di kotamadya.
Berhubung gelap membekap malam, mereka tidak bisa mengupas keadaan jalan secara jelas. Lantas, roda sepeda motor mereka terperosok ke lobang lebar itu. Memang tidak terlalu dalam. Tapi, telah mengagetkan si pengemudi yang berusia setengah baya itu. Serta-merta kendaraan jadi limbung. Nasib malang, mereka pun jatuh.
Dan, paling malangnya lagi, dari arah belakang meluncurlah bis antarkota yang melaju kencang. Akhirnya ….
Beberapa orang yang kebetulan melihat kejadian tersebut pun segera mengejar sambil meneriaki bis itu. Untunglah bis dapat dihentikan, meski setelah hampir satu kilometer. Para penumpang berhamburan keluar. Lalu bisnya dibakar mentah-mentah. Sopirnya dan kondektur langsung dihajar habis-habisan. Babak belur. Keduanya pun ditelanjangi.
Dalam keadaan kedua awak bis yang sekarat, kendaraan patroli polisi lewat.
Dor! Dor! Dor! Tiga tembakan peringatan dicurahkan ke udara. Serta-merta membuyarkan tindak kekerasan mereka beserta kegiatan lain di sekitarnya.
Mereka menghentikan aksi brutal mereka sebelum terlanjur mencabut nyawa sopir dan kondektur bis tadi. Mereka memberi kesempatan polisi untuk menindaklanjuti proses selanjutnya. Tiga orang dari mereka diinterogasi, termasuk pria bernama Paijo.
“Mereka melakukan tabrak lari, Pak!” kata Paijo dengan sangat emosional. Dia juga melintasi jalan tersebut, setelah pulang dari acara keluarga. Ternyata pasutri setengah baya itu adalah saudara orang tuanya.
“Di mana?”
“Di jalan Timur. Kira-kira satu kilometer dari sini,” jawab massa lainnya.
“Bud, hubungi kantor, minta bala bantuan menuju tempat kejadian kecelakaan itu. Dan, kalian bertiga ini silakan ikut kami,” perintah komandan dalam patroli tersebut.
“Siap, Pak!”
Seorang polisi lainnya menemukan dompet kedua korban amuk massa itu. Tak ada isinya. Cuma ada KTP, SIM dan kertas-kertas. Ternyata milik sopir bis dan rekannya.
Sementara mobil kijang warna hijau tua lainnya bergerak menuju tempat kejadian kecelekaan tragis tadi. Di tempat itu pun polisi menemukan dompet menganga, KTP, SIM dan beberapa uang receh berceceran. Ternyata milik kedua korban kecelakaan.
***
Kata-kata penyokong tabah dan penghibur lara dikumandangkan dari pengeras suara yang ditumpangkan di atas pohon mangga. Rumah duka itu dikerubungi banyak pelayat. Ada yang menangis. Ada yang terisak. Ada yang duduk-duduk seraya mengobrol. Ada yang bersenda gurau. Semua melakonkan peran masing-masing.
“Dik, aku pulang dulu, ya,” kata Paijo seraya menunjukkan perutnya, yang artinya dia tengah kebelet ke belakang.
“Mas Jo sudah makan?” tanya istrinya yang sejak pagi ikut membantu masak di dapur untuk memasak penganan bagi para pelayat yang nanti tidak kebagian nasi kotak.
“Sudah. Malah dua kotak, sampai-sampai aku kekenyangan.”
“Mas, tolong bawain nasi, sayur dan lauknya ini, ya, Mas, untuk makannya Antok kalau ia pulang sekolah nanti,” pinta istrinya sambil menyodorkan rantang bersusun tiga. “Tadi pagi aku ndak sempet masak, karena aku buru-buru disuruh bantu-bantu di sini.”
Laki-laki itu menyambut titipan istrinya itu, lalu berjalan ke samping rumah duka. Di situ ia berpapasan dengan dua tetangganya.
“Jo, nanti malam kita ngumpul di sini saja.”
“Iya. Seperti biasa lho, Rin,” sahut Paijo.
“Oh, iya, Mun,” kata Ngadirin kepada kawannya di sebelahnya, “kamu ajak si Parlan, Kancil dan Tejo. Nanti aku ajak Pentul, Gogon dan Tukiman.”
“Kira-kira ada berapa orang?” tanya Paijo.
“Satu, dua, tiga,…,” Sarmun menghitung. “Kira-kira delapan orang. Belum dari pemuda sini.”
“Bener, bener. Tiga meja aja, cukup, Rin.”
“Kartunya kamu siapin, ya, Jo?”
“Gampang,” sahut Paijo sembari bergegas pulang.
***
Seorang pria berpakaian rompi yang digelayuti saku-saku besar memasuki perkampungan tanggung yang tengah berselubung duka itu. Vespa birunya berhenti sejenak dekat sebuah tong yang ditancapkan sebatang bambu dengan bendera putih.
Rumah duka itu gampang ditebak, lantaran tamu-tamu diantara kursi pelayat tampak memenggal jalan sempit kampung itu. Selain itu, ketika masih sekolah menengah beberapa tahun silam, dia pernah datang ke situ, ke rumah itu, karena diajak oleh teman sekolahnya yang masih punya hubungan keluarga dengan pemilik rumah itu.
“Sini, Mas,” panggil seorang pemuda. Ternyata petugas parkir dadakan.
Pria berompi ini melaju perlahan ke arah petugas parkir itu. Tepat di depan si petugas, ia mematikan mesin vespa birunya. Petugas parkir dadakan segera menggiring alur kendaraan pria tadi ke arah tempat parkir. Di sana ia segera memarkirkan kendaraannya, diantara kendaraan yang lain. Kebetulan ia bisa menempatkan kendaraannya di bawah pohon jambu yang rindang.
“Langsung bayar aja, Mas, lima ratus.”
“Oh iya,” sahut pria berompi seraya merogoh sakunya. Dia sedikit kaget, sebab ongkos parkir per motor biasanya cuma tiga ratus perak. Apa daya, ini masalah peraturan kampung yang tidak terdaftar. Suka-suka mereka. Setelah membayar ongkos parkir, ia bergegas menuju halaman samping rumah itu. Beberapa pasang matanya melihatnya.
“Permisi, Mas,” katanya sewaktu berpapasan dengan seorang pemuda, “Mas Paijo ada di sini, nggak, ya?”
“O, ada. Ada, Mas. Mas ini siapa?” tanya pemuda itu.
“Saya temannya Paijo.”
“Mmm…, tunggu sebentar, ya, Mas.”
Pemuda itu berbalik, kembali ke dalam rumah. Tak lama kemudian tampak seorang pria berkumis dengan muka kuyu bagai bunga layu. Ia kurang tidur.
“Oo, kamu, Noy,” sapanya.
“Adik iparmu bilang, kamu di sini, Jo. Langsung aja aku ke sini,” ujarnya sewaktu bertemu dengan kawannya, Paijo.
“Tadi aku sempat pulang sebentar. Tapi, bener dia ada di rumah, Noy?”
“Ya. Kelihatannya baru pulang dari bepergian.”
“Ooo…syukurlah. Soalnya dia dapat tugas membeli perlengkapan pemakaman serta mencari orang-orang untuk menggali lobang kubur. Nggak tahu juga, apakah biayanya sudah naik atau belum. Soalnya sudah sering terjadi perubahan harga,”
“Oh iya, sorry, Jo, tolong antarkan aku melihat jenazahnya dulu,” potong Onoy.
“Ayo, ke dalam,” ajak Paijo.
Keduanya bangkit dan melihat ke ruang dalam. Di sana ada dua peti mati. Dan, di dalamnya masing-masing terbungkus sekujur tubuh. Onoy terkejut, namun dia diam saja. Lalu mereka kembali ke tempat duduknya semula.
“Pakcik dan makcikmu sekaligus?” tanya Onoy.
“Ya, paklik dan bulikku. Korban kecelakaan tadi malam. Untung penabraknya dapat dikejar orang. Aku juga ikut menghajar sopir bis itu sampai remuk, dan urusannya belum selesai nih,”
“Di mana?”
“Di jalan raya menuju kota,” jawabnya sembari menceritakan kembali sekelumit musibah malam tadi.
Jalan raya menuju kota. Tiap hari Onoy melintasi daerah itu. Memang sedang diperbaiki. Sayangnya, rambu-rambu nggak ada. Tidak terpikirkan bakal terjadi kecelakaan. Peralatan pemulusan jalan pun ditinggalkan teronggok di pinggir jalan. Tak khawatir kalau-kalau dicuri atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Para pekerja perbaikan jalan itu seakan tak peduli dengan barang-barang itu. Padahal harganya tidaklah murah. Pembeliannya pun mungkin masih dengan mengemis-ngemis bantuan utang luar negeri.
“Wah, kalian harus menggugat DPU nih,” komentar Onoy. “DPU itu harus bertanggung jawab. Pasalnya, itu ‘kan hasil pekerjaan mereka, proyek mereka.”
“Iya, ya, bener, Mas,” celetuk seorang pria di sebelah mereka. “Kemarin-kemarinnya sering terjadi kecelakaan gara-gara tergelincir di lobang itu.”
“Nah! Masak mereka makan gaji buta tanpa peduli tugas sudah selesai atau belum. Masak mereka bisa tertawa menikmati gaji, bonus dan bermimpi pesangon pensiun kelak, padahal lebih dua orang telah memakan buah keteledoran mereka!” gerundel Onoy.
“Yo, Waluyo,” panggil Paijo ke arah seorang pemuda yang tengah asyik bergerombol dengan kawan-kawannya.
Pemuda itu langsung bangkit dari duduk dan ngobrol bersama kawan-kawannya.
“Ada apa, Mas?” tanya pemuda bernama Waluyo, adik sepupunya Paijo.
“Nanti kamu dan beberapa pemuda sini berembuk. Lalu pergilah ke kantor DPU, minta pertanggungjawaban mereka atas kejadian semalam di proyek mereka.”
“Baik, Mas,” jawab Waluyo sembari kembali ke duduk dan ngobrolnya.
“Mas,” tegur seorang gadis manis beserta seorang pemuda yang membawa baki dan setumpuk nasi kotak, “silakan makan dulu.”
“Ya, ya, terima kasih,” sambut Onoy. Ia menerima kotak putih berisi nasi dan lauk-pauknya. Ia bersyukur sekali, sebab dari tadi malam ia belum makan gara-gara mengejar deadline artikel yang tak jua diperolehnya.
Kebetulan sekali, pikir Onoy di antara sendok plastik yang keluar-masuk mulutnya. Mending ‘ntar malem aku ikut begadang di sini aja ah. Siapa tahu aku bakal dapet inspirasi untuk bahan tulisan.
“Kok diam saja, Noy?” tegur Paijo setelah Onoy mengelap mulutnya.
“Nggak ada apa-apa, Jo. Aku tiba-tiba ingat kerjaanku kok,” jawab Onoy. Padahal ia pun tadi sedang merasakan bagaimana perutnya bisa menikmati makanan yang masuk.
“Eh, kamu kerja di mana sekarang?”
“Bekerja freelance di tabloid budaya. Magang dulu. Jadi penulis, editor dan ilustrator lepas. Sesekali bikin cerpen, cerita horor atau sajak. Baru jalan dua bulan ini.”
“Ooo…”
Sembari menikmati nasi kotak itu, Onoy teringat cerita istrinya tadi pagi sewaktu istrinya pulang dari warung mbak Retno tentang sebuah kecelakan yang mengenaskan. Kemungkinan sopir dan kondektur bis malam itu adalah tetangga Onoy sendiri.
Sementara itu Paijo memberi kesempatan Onoy menyantap nasi kotak berlauk ayam goreng serta secuil lalapan. Paijo mengingat-ingat uang yang diperoleh semalam dari dompet sopir dan kondektur bis itu. Ada kira-kira enam ratus ribu rupiah. Lebih dari cukup untuk begadang sambil bermain kartu semalam suntuk, bahkan bisa sampai besok malam jika ia menang. Kalau pun kalah, bukan masalah.
Di bawah rajaman mentari tengah hari kedua jenazah dianggung dengan keranda beramai-ramai menuju pemakaman kampung pinggir kota. Beberapa orang melempar-lemparkan uang receh ke pinggir jalan. Anak-anak berebutan memunguti keping demi keping yang tercecer.
*******
babarsarijokja, april 2002
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 20 Juli 2003]
posted by agustinus at 7:36 AM
KOTA TERHILANG
Bulan bisu tergantung bersama bintang-gemintang di langit kelam. Itulah induk malam yang sedang mengasuh anak-anaknya di padang lapang tak berujung. Sementara binatang malam ikut berpesta, menikmati malam hingga larut dalam kesunyian.
Aku masih berasyik-masyuk dengan perangkat peradaban, berselancar memasuki samudera maya. Sampai suatu pagi aku tiba di sebuah kota, disambut sayup-sayup irama petikan gambus. Mengalun merdu, mengantar aku ke sebuah penginapan kelas melati alias murah-meriah. Surya pagi agak meninggi setelah puas menghisap habis embun pagi di pucuk-pucuk rerumputan taman kota.
Sejak tiba di kota ajaib ini aku belum siap bekal-bekal harian seperti handuk, sikat gigi, odol dan lain-lain. Bekal sandangan seadanya tidak terasa menjadi beban. Tapi aku tidak tahu seluk-beluk kota ini. Petanya pun aku tak punya, karena memang tidak pernah terjual di mana-mana. Tak salah jika kemudian kunamai “kota terhilang”. Maka kusewa sepeda motor milik pengelola penginapan, agar deburan jiwaku dapat segera reda ditelan pesona kota. Kuajak remaja pria bernama Oji supaya bersedia memandu perjalananku.
Kota terhilang ini lumayan megah. Gedung-gedung gagah menjulang, seakan hendak menjamah rombongan awan di langit. Aku sempat terkagum-kagum. Dengan tegasnya simbol-simbol kota tersebut, kubayangkan kemakmuran dan kemajuan masyarakatnya. Pantas saja kota ini sejak dulu diorientasikan sebagai kota pariwisata. Betapa sayang jika kota ini tidak terpampang besar-besar pada peta nasional.
“Mas, itu bukan gedung biasa,” ujar Oji.
“Maksudmu?”
“Itu hotel-hotel khusus burung walet.”
Hotel burung walet! Unggas penghasil liur berharga jutaan rupiah itu, melebihi harga para wisatawan yang datang pada musim-musim tertentu. Tentu saja bisnis air liur lebih menggiurkan, menjanjikan laba berlipat-lipat.
Kami menuju satu-satunya toko swalayan di kota ini. Toko swalayan yang acapkali disamakan sebagai simbol atau citra kemajuan kota modern ini ternyata benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk kota serta sekitarnya, berbeda dengan toko swalayan di kota-kota yang pernah kukunjungi. Ah, inikah ungkapan budaya kagetan itu?
Mungkin justru aku yang tidak peka pada budaya masyarakat kota ini. Setahuku, toko swalayan merupakan sarana perbelanjaan modern, simbol dan citra modernitas daerah. Tapi pengunjung toko swalayan kota ini tak ubahnya pengunjung toko tradisional. Beberapa pengunjung dengan santai berpakaian serba lusuh. Mungkin mereka baru pulang dari perburuan ikan di laut atau dari berkebun.
Oji mengajakku menyisiri beberapa sudut kota ini. Kulihat beberapa anak seusia sekolah dasar sudah biasa menghisap rokok. Preman kecil berserakan, berani malak orang. Aparat diam, berkarat menikmati gaji serta uang kolusi. Judi buntut, togel atau toto gelap pun bertaburan di sembarang tempat. Memang, impian kaya mendadak selalu mencumbui khayalan siapapun.
“Di samping tingkat kemalasan dan khayalan pemuda kota ini setinggi langit,” jelas Oji, “togel bisa tumbuh subur karena jaminan keamanan dari aparat yang dibayar sekitar dua hingga tiga ratus juta per bulan.”
“Angka kejahatan pencurian sepeda motor pun tinggi akibat ketidakpedulian aparat. Aparat lebih menomorsatukan pengamanan bisnis nomor buntut,” tambahnya.
Inikah gelar barunya sebagai kota pendidikan? Ah, aneh, gumanku.
Selanjutnya, tidak jauh dari kawasan perniagaan kota itu dan di sekitar rumah penduduk, aku melihat kegiatan masyarakat kota mencari nafkah yang akhir-akhir ini marak diberitakan. Apa lagi kalau bukan kegiatan mendulang harta tambang di halaman rumah sendiri yang dilintasi aliran parit kecil.
Orangtua beserta anak-anak yang masih berseragam sekolah terlihat asyik mendulang harta alam. Memang mereka bisa mendulang bahan tambang kelas 1-2 yang harganya tidak semahal kelas utama, 1-4. Namun mereka bisa mengeruk beberapa puluh ribu rupiah sehari. Setelah itu mereka akan menjualnya kepada penadah gelap, yang berani membeli dengan harga lebih tinggi daripada penadah resmi. Kalau kelas 1-4 dihargai 16 ribu rupiah per kilo oleh penadah resmi, sedangkan penadah gelap berani membeli dengan harga sekitar 19 ribu rupiah. Pantas saja penyelundupan barang seperti itu selalu menjadi berita langganan harian di koran lokal.
Perjalanan menelusuri kota terhenti menjelang seperempat sore ini ketika telepon genggam Oji berbunyi. Dari pesan yang tercetak di layar teleponnya, Oji diminta segera pulang. Ada keperluan keluarga. Maka kami memutuskan kembali ke penginapan saja. Dan sejenak kami melewati persimpangan sewaktu lampu merah menyala.
“Berhenti, Ji!” seruku karena gelagat Oji akan menerabas lampu merah.
“Nggak usah repot-repot, Mas,” tanggap Oji, “nggak ada polisi kok.”
Benar kata Oji. Orang-orang pun tidak peduli dengan warna-warna lampu yang menyala. Aku menoleh ke belakang, melihat ke pos jaga polisi lalu lintas di simpang itu. Memang tidak ada polisi, kecuali anak-anak sekolah nongkrong sambil mencorat-coret dinding pos tersebut. Entah ke mana lenyapnya atau entah punya proyek apa lagi para polisi lalu lintas yang seharusnya berjaga di sana.
Seingatku, sepanjang perjalanan itu, aku hanya menemukan dua lampu rambu-rambu lalu lintas di kota yang sering menjamu wisatawan dalam negeri dan luar negeri ini. Pertama, tadi, simpang kantor pos kota. Itu pun mati entah sejak kapan. Dan yang kedua, yang barusan kami langgar, simpang terusan jalur telkom. Biarpun hidup normal, fungsinya hanya sebatas simbol kota. Tidak berfungsi semestinya.
Di atas lajunya kendaraan, Oji berkisah sedikit tentang kecelakaan di simpang empat itu. Korban adalah temannya sendiri. Lebih celakanya, kata Oji, sampai di rumah sakit dokternya tidak ada, padahal kawannya betul-betul gawat berat. Sebentar aku bisa membayangkan, bagaimana jadinya bila kesemrawutan lalu lintas dan kepunahan aparat lalu lintas dibarengi oleh kelangkaan dokter.
Beruntung aku menjelajahi kota ini dengan Oji, kata batinku. Oji, penduduk asli kota terhilang ini, memang bukan jenis anak muda rumahan, sehingga dia kenal baik setiap jengkal kota. Selama lebih seperempat hari Oji memanduku, aku dapat menilainya.
Malam harinya giliran Oji mengajakku melanjutkan penjelajahan kota. Dia menawarkan beberapa paket jalan-jalan malam, yaitu ke pusat jajanan malam rakyat yang terletak di dekat terminal kota, lalu ke diskotik atau arena bilyar di hotel pinggir pantai, atau berburu kemesuman di pinggiran kota.
Penjelajahan malam kami mulai dari pusat jajanan malam rakyat. Di sana tenda-tenda terbentang mirip bunga-bunga jalanan yang pernah aku renungi. Aku menikmati sajian khas menu lokal, meski beberapa lainnya mirip dengan sajian makanan umum semisal pisang goreng dan tahu-tempe goreng. Di sela-sela menikmati makanan malam itu, kami melihat jual-beli pil ektasi dilakukan secara terbuka, blak-blakan. Beberapa aparat yang masih muda pun sedang mabuk pil laknat lainnya di sudut tenda.
“Ji, apa bener sih kota ini bergelar kota pendidikan?” bisikku pada Oji.
“Nggak tahu, Mas, apakah kota ini pantas menyandang gelar kota pendidikan, kota pariwisata, ataukah kota industri,” sahut Oji malas-malasan. “Menurutku, kota ini lebih pantas menyandang predikat kota brengsek sebrengsek-brengseknya kota, Mas.”
“Kota brengsek?” aku terkejut.
“Ya, kota brengsek! Peraturan brengsek, hukum-hukum brengsek, aparat brengsek, penduduk brengsek, norma brengsek, tokoh masyarakat brengsek, dan agama yang tak lebih hanya KTP alias kata tanpa perbuatan. Judi, mabuk-mabukan, obat-obat bius, pil laknat, pencurian, penyelundupan, premanisme dan kriminalitas yang mengerikan, begitu marak di sini. Namun tokoh penting masyarakat dan aparaturnya seolah dimabukkan oleh anggur kebusukan bersama!”
Tak berapa lama kami melanjutkan perbincangan ke taman kota. Oji kian menumpahkan segala kemuakannya pada kota terhilang ini. Aku kewalahan mendengar segala gemuruh gerutuan Oji. Kekecewaannya mengendap selama sekian puluh tahun tinggal di kota terhilang ini. Barangkali seluruh kebobrokan kota telah menyumpali dan melimbahi isi kepalanya, entah dari pengalamannya sendiri maupun dari sumbangan kisah-kisah resah kawan-kawannya yang tidak berani melapor karena ancaman preman, aparat yang mata duitan, warga yang sibuk menyelamatkan diri sendiri.
“Selama para aparat karatan yang keparat itu masih bercokol,” tukas Oji jengkel, “mustahil sekalilah mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, kesentosaan dan kenyamanan di kota brengsek ini.”
“Betul, Ji. Perekonomian, perdagangan, pendidikan, kenyamanan dan keadilan jelas akan mandul bila tidak dibarengi jaminan keamanan.”
“Para juru bicara cuma lihai berteriak-teriak tentang masa depan kemakmuran dan peradaban. Kenyataannya, bisnis kejahatan semakin terorganisir semenjak pejabat dan aparat bersetubuh dengan penjahat. Payah nian orang-orang brengsek itu!” tandas Oji.
“Tapi, kok kamu sanggup bertahan menetap di kota seperti ini?”
Oji tidak langsung menyahut. Tampaknya Oji berhati-hati sekali dengan apa yang akan dikatakannya. Aku malah penasaran pada idealisme pemuda satu ini. Betapa tidak. Jelas-jelas situasi sosial-ekonomi-politik di ‘kota terhilang’ ini benar-benar tidak kondusif bagi masa depannya.
“Kenapa, Ji?”
“Mas, cinta yang membuatku bertahan. Baik atau buruk kehidupan kota ini, aku terpanggil untuk tetap mencintainya. Aku terlahir di sini, dibesarkan di sini.”
“Tidak berkeinginan untuk merantau, pindah ke luar pulau dan membunuh semua kenangan pada tanah kelahiran, sebelum kebrengsekan membinasakanmu?” pancingku.
“Mas, cinta sejati bukanlah sekadar bunga-bunga kata yang kemudian kelopaknya gugur akibat kejahatan-kejahatan alam serta kebiadaban orang-orang. Cinta sejati butuh kesetiaan, agar dapat melewati ujian-ujian yang tidak main-main.”
“Tapi dengan situasi yang sangat mengerikan begini, apakah kesetiaanmu tidak lantas menjadi kesia-siaan belaka? Malahan kamu bisa mati konyol di sini!” protesku.
“Memang kesetiaanku ini akan selalu diperhadapkan pada kesia-siaan, kebosanan bahkan kemuakan,” akunya. “Makanya, aku senantiasa memperbarui komitmen cintaku.”
“Dengan cara apa?” selidikku penasaran. Barangkali Oji mau menularkan kiatnya.
“Dengan cara merenungi dan mengingat kembali visi hidupku untuk hidup di kota ini. Juga aku bekerjasama dengan kawan-kawan yang mempunyai kesamaan cinta dan visi bagi perubahan kota ini, termasuk kawan-kawan yang bersekolah di perantauan.”
“Kan waktunya tidak secepat kilat, Ji? Apalagi kamu kelak akan berkeluarga.”
“Benar, Mas. Butuh bertahun-tahun. Butuh kesabaran dan kesetiaan yang sejati.”
“Berarti kesatuan cinta dan visi itulah pondasi hidupmu sehingga kamu betah bertahan sampai kelak mulut tanah ini melumat bulat-bulat raga fanamu?”
“Begitulah,” suara Oji pelan tapi tegas. Dia tetap berharap pada perubahan besar atas kota ini, sebagaimana arti cita-cita reformasi yang dikoar-koarkan banyak orang, termasuk oleh orang-orang brengsek, oleh pejabat brengsek serta oleh aparat brengsek.
Saat bulan melebarkan senyum gaibnya, kami memutuskan pulang ke penginapan. Mataku sudah berat untuk diajak melanjutkan kelayapan malam. Seharian penuh aku dan Oji menjelajahi kota terhilang ini. Letih sekali. Kupikir istirahat justru lebih baik.
Sesampainya di garasi penginapan, adiknya Oji menyambut kami dengan berita buruk. “Bang Oji, tadi motorku dirampok orang di jalan. Mereka memakai tali, dipasang melintang dan ditarik waktu aku melintas. Aku jatuh, langsung mereka mengeroyokku. Terus, mereka merampok motorku, STNK sekaligus dompetku. Ludes duitku. Untung aja aku tidak mati dibantai mereka,” adu adiknya Oji dengan muka babak-belur.
Di tempat itu memang sering terjadi perampokan sepeda motor. Sedangkan pihak aparat atau pemuda-pemuda sekitar situ tidak ada yang peduli. Barangkali kejahatan itu melibatkan pemuda setempat. Mungkin hanya persekongkolan dengan pemuda setempat, juga dengan aparat.
Ah, adiknya Oji ini masih saja bisa bilang “untung”, padahal sudah hancur-hancuran dan habis-habisan begitu. Atau memang selalu saja ada yang sanggup memetik keberuntungan selama tinggal di negara ini.
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkanku. Sekejap “kota terhilang” lenyap, berganti kedatangan kawan-kawan di kosku. Mereka mau numpang nonton siaran langsung pertandingan sepakbola Liga Italia Seri A. Kuhentikan kegiatanku berselancar lewat perangkat peradaban bernama internet.
*******
babarsarikotapelajar, 2001
[cerpen ini ikut menjadi pemenang ‘5 besar’ Lomba Cerpen Sleman 2001, dan juga dimuat di harian Bangka Pos, 2001]
posted by agustinus at 7:35 AM
KOSAKAY DI PERSIMPANGAN
Kosakay telah berhasil meraih gelar sarjana pendidikan agama di sebuah sekolah tinggi agama. Ratusan surat berisi ucapan “selamat wisuda” menggenangi kamar kosnya yang berukuran 3x3 m2. Mukanya cerah. Bibirnya banjir senyum. Ia ingin pulang ke kampung halaman. Mumpung sebutan sarjana masih bergelora dalam dadanya, ia tertantang untuk memberi hidupnya pada kampung halamannya, yaitu sebuah wilayah yang dikenal dengan nama “Negeri Pantat Abu”. Apalagi daerahnya tengah gencar menuntut kemerdekaan. Rencana-rencananya sebagai putera daerah silih-berganti dan bersliweran di dalam benaknya.
Negeri Pantat Abu? Kedengarannya asing sekali. Tidak lazim. Tidak pernah ada dalam kenyataan sejarah. Sebelumnya Kosakay pun tak tahu. Namun julukan asing ini mencuat ketika penduduk bagian pedalaman atau pegunungan negeri itu marah pada suatu bangsa bahkan saudara sebangsanya yang menjuluki leluhur Kosakay “pantat abu”. Julukan yang sangat melecehkan, menghina dan melukai hati mereka selama puluhan tahun. Makanya, negeri mereka diberi nama “Negeri Pantat Abu”.
Selama masa kuliah di perantauan, Kosakay tinggal di asrama putera Negeri Pantat Abu bertempat di jalan Bunga Bangsa. Di asrama tersebut, pola pergaulan penghuninya sungguh bertolak belakang dengan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Negeri Pantat Abu. Kebiasaan pesta-pesta, mabuk-mabukan, hubungan seksual sebebas-bebasnya, perjudian, kekerasan, pertikaian dan perkelahian antar kawan merupakan pemandangan sehari-hari, terlebih setiap awal bulan ketika kiriman uang berdatangan. Bahkan pacarnya sendiri beberapa kali mengkhianatinya dengan cara melakukan pergaulan bebas dengan beberapa kawannya sendiri.
Kosakay sedih melihat bahwa agama di sana tidak lebih dari kemeja lengan panjang alias bisa dipakai saat-saat formalitas saja. Hati kecilnya merintih, karena telah bertahun-tahun bersemayam norma-norma kesucian agama. Dia teringat kerja keras orang tua mereka di kampung halaman sana, dari yang pegawai negeri, karyawan swasta, wirausaha hingga petani ubi di tanah-tanah kering kerontang.
“Negeri Pantat Abu adalah negeri kaya raya. Setinggi-tingginya gunung, sebanyak-banyaknya gunung, di sana pulalah emas-emas kita berada dan berjumlah. Para ahli ilmu bumi dan tambang telah berhasil melihatnya bulat-bulat melalui satelit. Baru sebagian kecil saja yang berhasil dikeruk, dan itu pun lebih banyak dianggung ke luar negeri oleh bangsa asing,” petuah-petuah ampuh yang senantiasa disiarkan dalam pergaulan masyarakat Negeri Pantat Abu.
Petuah-petuah yang menambah hati kecil Kosakay tercabik-cabik, sebab kenyataan serta gaya hidup sebagian besar pelajar-mahasiswa perantauan akan menjadi bumerang bagi warisan alam itu.
Semasa kuliah Kosakay pun terlibat aktif dalam organisasi pelajar-mahasiswa warisan putera-puteri Negeri Pantat Abu perantauan masa lalu. Posisinya pun tidak main-main, yaitu ketua urusan hubungan internasional. Jabatan yang luarbiasa. Jam terbangnya tinggi, terlebih sewaktu gencar-gencarnya isu ‘Negeri Pantat Abu Merdeka’.
Bersama mahasiswa perantauan Negeri Pantat Abu lainnya, mereka beberapa kali mengadakan seminar, saresehan, simposium, konferensi dan pertemuan akbar segenap putera-puteri perantauan asli Negeri Pantat Abu. Acara-acara mereka senantiasa dipadati oleh kaum mereka sendiri, bahkan dihadiri oleh pembicara perantauan yang memiliki
mutu berpikir, mungkin, setingkat para pakar politik dunia.
Masa-masa liburan kuliah, kadang-kadang diisinya dengan mudik dan membedah Lembah Perjanjian. Beberapa kali juga dia menyaksikan pemandangan yang tidak menyenangkan. Suatu kebiasaan yang dari sejak kecil sampai kini terekam dalam ingatannya, tak jua berubah menjadi baik. Bersulang minuman keras serta oplosannya dengan spiritus di kalangan pemudanya adalah pandangan yang terlalu biasa di sana.
Memalukan sekali. Tiada hari tanpa mabuk jika kondisi keuangan memungkinkan. Jika tidak, mereka akan menjadi preman dan memalak orang-orang, kemudian mabuk-mabukan lagi dari pagi jumpa pagi. Mati akibat oplosan pun jadi. Setiap awal bulan usai terima gaji, beberapa pegawai negeri yang sudah bapak-bapak nampak tergeletak di emperan jalan-jalan kota atau berjalan sempoyongan akibat terlalu banyak menenggak minuman jahanam itu.
Kosakay muak. Kosakay sedih. Kosakay malu. Di satu sisi dia melihat sebagian masyarakat menjalankan amanah agama dengan begitu fanatik, tetapi sebagian lainnya begitu kental dengan pesta pora, kemabukan, kekerasan dan kemalasan. Nilai-nilai agama hanya terlihat sejuk sewaktu orang-orang berduyun-duyun menuju rumah ibadah. Selanjutnya, setelah pulang beribadah bahkan setelah sembahyang hari raya, kegiatan dapat dilanjutkan dengan bermabuk ria. Mereka menganggap mabuk-mabukan bukanlah larangan agama. Mereka menganggap bahwa mabuk-mabukan adalah bagian dari kehidupan lelaki dewasa, jantan dan modern.
Kerinduan seorang Kosakay makin menggebu untuk mendidik orang-orang muda. Lantas masa-masa kuliah semester terakhir semakin diisinya dengan acara-acara khusus membicarakan Negeri Pantat Abu Merdeka.
***
Sebuah seminar akbar dan semi internasional diadakan di Gedung Pertemuan Kota. Bendera “Bintang Benderang” terbentang lebar di atas mimbar. Putera-puteri perantauan dari Negeri Pantat Abu tumpah-ruah di sana. Sebab, mereka tengah bergairah untuk memproklamasikan negeri mereka. Salah seorang pembicaranya adalah seorang doktor lulusan universitas terkenal di Negeri Kelana Samudera. Seorang guru pribadi bagi Kosakay semasa kecil dalam menekuni nilai-nilai ketuhanan.
Dalam pertemuan itu, Kosakay sempat menikmati kembali masa-masa belajar bersama guru masa kecilnya tersebut. Bedanya, kini sang guru sudah berubah drastis, 1800. Tidak ada lagi ajaran serta nasihat agama. Orang itu benar-benar sudah melupakan nilai-nilai serta ritual agama. Kosakay sempat terkejut.
“Agama yang diusung oleh orang-orang Asing adalah kendaraan kuno yang masih sanggup mengangkut kehidupan kita ke dalam penjara kesengsaraan yang tidak berperikemanusiaan. Agama telah ratusan tahun dipakai oleh para penjajah semesta sebagai bilik politik untuk mengesahkan mereka melakukan hubungan intim antara doktrin-doktrin dengan kerakusan egositas,” pidato politik sang guru di mimbar.
Segenap peserta seminar terbelalak laksana tersengat arus listrik ratusan watt. Semua terkagum-kagum. Kosakay yang sejak kecil menghormati mantan guru spiritualnya itu, kini bertambah kagum atas kecerdasan sang guru.
“Agama tidak lebih dari obat bius yang telah merampok kesadaran nurani kita pada arti sebuah kemerdekaan suatu bangsa dan kekayaan alam yang seharusnya menjadi bagian dari usaha peningkatan kesejahteraan penduduk Negeri Pantat Abu. Agama kian korup semenjak jadi sarana persekongkolan internasional untuk menghisap kekayaan alam sekaligus memusnahkan kehidupan adat-budaya suatu bangsa sampai ke akar-akarnya,”
“Adat-istiadat dan kebudayaan kita lebih tinggi, lebih luhur, lebih jujur daripada agama-agama yang mereka jejalkan selama ratusan tahun ini!” sorak-sorai hadirin menanggapi pidato sang guru.
“Orang Asing menyuruh kita duduk atau bersujud sambil mendongak ke atas, menatap langit-langit kelam, lalu memejamkan mata, berdoa. Sementara orang-orang Asing itu sendiri tidak menatap ke langit. Mata orang-orang Asing itu berkeliaran di hutan-hutan, gunung-gunung dan perut tanah negeri kita. Kepada pemimpin politik yang telah melacurkan diri dengan para pengusaha itu, mereka bilang, ‘Kami sudah menyuruh orang-orang Negeri Pantat Abu menengadah ke atas. Kami sudah bilang bahwa tanah air mereka ada di surga, kekayaan mereka berasal dari surga. Tinggal sekarang giliran kalian datang, ambil sampai tumpas apa yang mereka punyai di dalam bumi mereka itu’. Apakah kita akan terus menghadap ke langit hingga kepala kita tertancap di sana? Jangan dungu!” khotbah sang guru. Kosakay terpana laksana ikan letih tersangkut kail.
***
Pertemuan dengan sang guru telah berpengaruh sangat dahsyat bagi Kosakay. Dia mengalami pertentangan batin yang serius. Dia ingat bahwa sang guru tidak pernah keliru atau terburu-buru dalam berkata-kata, apalagi sudah bergelar doktor begitu. Tetapi dia juga ingat dan sadar bahwa agama yang sekarang dianutnya bukan sekadar pelengkap identitas resminya di KTP. Agama ini telah melumpuhkan kebuasan warisan nenek moyangnya.
Dia mengerti ke mana dia harus membicarakan perihal perang batinnya. Kepada Oji, seorang guru rohaninya yang telah sekitar lima tahun terakhir sering memberinya nasihat-nasihat keramat, Kosakay mengadukan semua yang berkecamuk dalam dirinya.
“Kay, sekian tahun kita bersama, bergaul, beribadah, berdoa, kadang kita makan bersama. Kita sering sama-sama mendapat pengajaran tentang kebenaran, nilai-nilai hidup, kesejatian hidup ini,” tukas Oji sang guru rohaninya yang telah membantunya menjinakkan kebuasan khasnya lalu menjadi pemuda santun dalam perilaku dan perkataan, “kamu pasti sudah bisa menangkap panggilan hidupmu yang sebenarnya apa. Kau tentu masih ingat kisah-kisah terakhir Raja Daud, kan?”
Kosakay mengangguk. Kesejukan merambati di hatinya yang agak gersang.
“Raja Daud tidak diperkenankan membangun Bait Allah karena tangan Daud sudah menumpahkan darah. Politik telah mencemari kesucian nilai-nilai kemanusiaan dalam rangka pembangunan jemaah yang soleh. Darah akan menuntut darah,”
Kosakay tercengang. Dia seakan sedang diingatkan lagi tentang perbedaan besar antara perjuangan politik dan perjuangan agama. Politik tidak mengenal halal-haram suatu cara, kecuali kepentingan-kepentingan sesaat. Sementara agama tidak bisa serta-merta sepakat kepada setiap cara di luar perikemanusiaan yang hanya demi kepentingan sesaat. Perselingkuhan agama dengan politik telah melahirkan dogma-dogma fanatik, munafik, picik, sadis dan materialistis. Perpaduannya cenderung haus darah dan dendam kesumat.
Kosakay sudah membuktikan sendiri, bahwa politik acapkali memakai cap agama untuk mencapai tujuan-tujuan kerakusan kekuasaan. Apalagi isu agama sangat potensial dalam menumbuhkan sikap fanatik yang beringas. Isu tersebut terbukti manjur dalam praktik-praktik politik selama berabad-abad, perang saudara, perang antar bangsa serta kompromi atas perilaku-perilaku penjajahan. Politik memakai agama sebagai mesin pembunuh massal paling kejam dalam sejarah. Agama pun memakai politik untuk menindas kehendak bebas atau hak asasi setiap manusia memilih beragama tertentu.
“Ketika kamu memilih terlibat aktif bahkan menjadi bagian dari poros utama perjuangan tersebut, otomatis kamu sendirilah yang telah menutup potensi-potensi spiritualitasmu dalam membangun umat yang bermutu iman luarbiasa. Dari pertumpahan darah itu, nilai-nilai insaniah, kebenaran, kesucian dan peradaban seperti apakah yang kelak kamu berusaha tanamkan dalam diri generasi muda Negeri Pantat Abu sana?”
Kosakay termenung. Dia ingat kembali cita-cita luhurnya ketika baru-baru mendaftar sebagai mahasiswa jurusan pendidikan agama. Dia terpanggil membangun Negeri tercinta berdasarkan nilai-nilai, norma-norma dan perilaku yang benar pada generasi mudanya. Nilai-nilai kebenaran dan kasih yang bermoral ilahi tentu saja tidak akan didapatinya dari kitab-kitab besar sistem politik semesta. Sebab manuver-manuver politik tak jarang menyenangkan hati rakyat belaka demi dukungan rakyat secara berkelanjutan. Raja Saul tumbang akibat melalaikan integritasnya sebagai pemimpin.
Demi menyenangkan rakyat? Kosakay teringat pula bagaimana kesenangan rakyat Negeri Pantat Abu, baik semasa merantau maupun situasi mereka di tanah negeri. Kalau mayoritas rakyat menghendaki kebobrokan tak terkendali – terutama kebanyakan orang muda di negeri kelahirannya – jelas harus mengikuti kehendak jiwa liar rakyat demi kelanggengan kursi si penguasa. Pesta pora, perjudian, kemabukan, kekerasan adalah kebiasaan hidup di sana. Politik juga selalu berlindung di balik nama rakyat, cuci tangan dan menghilang sembari menggondol kekayaan negara. Politik penuh pura-pura. Rakyat hanya jadi tameng dan akhirnya hanyalah tumbal persengketaan kalangan elit.
“Kosakay, aku berdiri bersamamu, mendukung cita-citamu, siap membantumu dalam perjuangan penegakan nilai-nilai luhur kemanusiaan,” janji Oji, kawannya, “tapi bukan untuk memecah belah Negara Rajawali Raya dengan melepaskan negeri kalian.”
“Ji, kau tidak tahu sejarah Negeri Pantat Abu ketika diaku-aku oleh Negara Rajawali Raya sebagai salah satu negara bagiannya.”
“Sejak kapan kau mengerti seluk-beluk sejarah itu sendiri? Sejak kau sudah mengenal kehendak Tuhan pada tiap-tiap suku, bangsa dan negara? Sejak kau memuntahkan bermilyar-milyar doa ke langit demi kejayaan dari barat sampai timur negara kita tercinta ini?”
“Ji, Oji, kau tetap tidak mengerti.”
“Ya, aku tidak mengerti, mengapa kata-kata sia-sia begitu mudah dan murahnya kita hambur-hamburkan ke Tahta langit, ternyata kamu berharap badai berdarah memisahkan tanah kalian dari kesatuan kita. Berarti omong kosong saja sewaktu kita berkata “kamu saudaraku, aku saudaramu”. Benar-benar dusta semata!”
Kosakay hanya diam. Dia tidak mau mendebat Oji, sebab mereka selama ini akrab bagai kawan lama yang sama-sama merantau. Kedua sahabat ini sering berdoa bersama, makan bersama dan saling menyemangati dalam kegiatan-kegiatan publikasi. Kosakay menyadari bahwa manusia terlalu lihai memainkan lidah dan lincah menjilat ludah. Makanya, Kosakay tidak kuasa menggugat ketidaksepakatan Oji.
***
Begitu Kosakay dinyatakan lulus dari sekolah tinggi agama itu, segera dia kembali ke Negeri Pantat Abu. Kalau dulu alasannya rindu jumpa keluarga semua, kini dia ingin melihat dari dekat kondisi Negeri Pantat Abu menjelang peringatan dirgahayu Negeri Pantat Abu yang bakal diadakan di stadion sepakbola terbesar di sana. Dia ingin menyaksikan dari dekat bagaimana antusiasme rakyat dan pidato-pidato berapi-api itu menjadi sebuah kesepakatan seluruh rakyat Negeri Pantat Abu.
Akan tetapi, beberapa waktu setelah itu Kosakay melihat realitas Negeri Pantat Abu, bahkan lebih dari berita-berita media massa nasional yang semula dicurigai oleh Kosakay sebagai berita propaganda yang sentimen. Pejabat-pejabat Negeri Pantat Abu ternyata adalah koruptor-koruptor paling rakus!
Maka Kosakay mengenyahkan semua cita-cita kemerdekaan Negeri Pantat Abu. Dia memilih menjadi pendidik bidang moral dan mental bagi anak-anak.
*******
jogjakarta, agustus 2001
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 15 Juni 2003]
posted by agustinus at 7:33 AM
GENDERANG PERANG DITABUH
Pancapersada gemetar. Taparaga berdiri di muka tirai cakrawala yang tergambar pada tabir bening di sisi kerlingan mata Langen Kirana. Sudah lama sekali dia undur bahkan nyaris bertransformasi menjadi seorang peccatophobis. Selama ini dia mengelupas matahari dengan patiraga patibunyi, bertafakur.
Tidak lagi untuk kali ini, kendati baru pertama ini terjadi selama tarikh cyberia. Sebab, dia melihat jauh menembus alam ruh, bahwa naga-naga telah mencabuli bulan; naga-naga telah menzinahi malam; naga-naga telah menggagahi mimpi-mimpi. Anak-anak jadah bayang-bayang lahir dari rahim kelam dengan derai badai dan puting beliung. Satu per satu, setapak per setapak mereka serentak menembus atmosfir laksana hujan halilintar.
Sangkakala sayup-sayup menerpa senyap. Sangkakala satu mulai disambut sangkakala lainnya. Suara-suara bersahut-sahutan. Suara-suara bertalu-talu. Gemuruh perang telah ditabuh.
“Kirana, nampaknya kita harus segera kesana.”
“Seharusnya memang begitu.”
Keduanya berpeluk kepalan kanan. Kebulatan tekad dari kesepakatan
“Per-aspera-adastra, Mas!”
“Per-as...”
“Per-aspera-adastra!”
“Aku baru mau bilang begitu. Ah, suaramu memang merdu.”
“Apa hubungannya?”
“Enggak. Aku hanya mau bilang ‘suaramu merdu’. Hanya itu.”
“Mas terlalu berlebihan, dan tidak situasional!”
“Maafkan aku.”
“Berkali-kali bilang maaf.”
“Sorry. Tapi terus terang, hawa mulutmu bau pete, Kirana.”
“Aku barusan makan pete, pete bakar kesukaanku. Ayolah, waktu kita tidak banyak!”
Keduanya tidak membuang waktu dengan bincang percuma, apalagi soal pete, bau mulut, makanan favorit, dan lain-lain. Mereka bergegas menaiki petala angkasa dengan kuda baja bersayap lebar dan bertanduk tunggal. Sayap baja kuda itu mengepak-ngepak. Setiap awan gemawan yang tersentuh kepaknya atau hanya terkibas hembusan kepaknya, akan buyar dan beberapa gugur menjadi serpihan kaca cair.
“Eh, Kiranaaaaaa!” teriak Taparaga sembari tetap memacu kuda baja terbangnya.
“Ada apa, Mas?” Langen Kirana menoleh ke arah Taparaga.
“Dengarlah, Kirana! Biarpun mulutmu bau pete, aku tetap cinta padamu!”
Apa pula hubungan antara pete dengan cinta? Kalau pete menggerogoti cinta, sudah pasti cinta itu imitasi. Wah, Mas Tapa ini ada-ada saja, batin Langen Kirana seraya tersenyum. Lalu pandangannya mengarah ke depan.
“Eh, Kirana! Maaf, sekali lagi maaf…”
Aduh, apa lagi sih, guman Langen Kirana. Dasar tidak situasional Mas Tapa ini. Situasi genting begini, masih coba-coba merayu! Dasar!
“Kirana, per-aspera-adastra tadi itu artinya apa?”
“Mas tidak tahu?”
“Tidak. Maafkan aku.”
“Masih saja begitu, minta maaf tidak situasional alias tidak pada suatu kesalahan.”
“Maafkan aku kalau begitu.”
***
Pada zenith langit – ada sebuah satelit purba karam di situ – Taparaga dan Langen Kirana berhenti. Dari situ pandangan mereka langsung menerpa panorama eksotik yang terbentang. Gugusan tanduk buana, ziggurat-ziggurat, ngarai, halimun, mega, alap-alap, laskar cyborg-kavaleri, cybertrasonyxplane, meteor-meteor dan pilar-pilar bianglala sampai bayang-bayang negeri sujana.
Ning nang ning gung…. Ning nang ning gung… swezzz swizzz… tang ting tung… tang ting tung… swezzz swizzz…
“Ada sebuah pagelaran akbar rupanya, Kirana!”
“Ya, Mas!”
Kemudian monitor digital pada helm Taparaga dan Langen Kirana berkonsentrasi secara otomatis. Seketika mereka menyaksikan pertunjukan besar-besaran di ujung horizon. Umbul-umbul berwarna-warni menancap tegak. Banner-banner berkibar-kibar. Debu-debu berhamburan kemana-mana hingga membubung menjadi awan kelabu yang menggagahi cyberosfir, diakibatkan oleh orang-orang bergoyang dombretz secara liar sekali.
Namun mata mereka menangkap suatu pemandangan ganjil. Naga-naga menyelinap di bilik-bilik sukma para penari, bani kizib, geng hedonyx, klan hipokritaholic, dan kelompok-kelompok chachacha lainnya yang ada di sana. Orang-orang itu tidak sekadar berdombretz ansich, melainkan juga berkelahi, berperang satu dengan yang lain. Sirine-sirine meraung-raung, malah seperti bagian dari alunan musik primitif. Kilat-kilat berbahaya menghujam ke mana-mana. Kepulan asap membentuk cendawan raksasa.
“Orang-orang sakit itu tersesat di stadium trance.”
“Ulah naga-naga terkutuk itu!”
“Ya, Kirana. Pasti ada yang lebih besar dan paling besar.”
Benar sekali. Di angkasa seekor naga raksasa menari kegirangan sendiri sembari menyembur-nyembur kibriahnya. Sesekali halilintar menggelegar dan menyambar-nyambar. Pedang-pedang halilintar tercurah.
“Itu dia biangnya, Kirana.”
“Oh…”
Siapa pun di galaxyantum tahu bahwa itulah Naga Kulonialibernyx. Sejak musuh bebuyutannya – Naga Lorbuanza – gugur dengan raga terpecah belah kemana-mana, Naga Kulonialibernyx kian gandrung mengaduk-aduk jagadraya hingga cyberouterspace. Para penghuni alam semesta harus tunduk padanya. Setiap keberadaan mereka harus meregister dulu sebelum bisa bebas menggeliat.
“Nah, lihatlah kepongahan naga itu mengangkangi langit-langit. Ayo, Kirana, kita perangi naga itu! Kau balas dengan menari, dengan menyanyi, seperti pemazmur purbakala yang menyanyi dan menari membabibuta. Sedangkan aku yang akan menghadangnya.”
Langen Kirana bergerak cepat dengan kuda terbangnya menuju sebuah panggung hablur yang melayang di tengah cyberosfir. Di sana Langen Kirana segera turun. Dan dia mengambil sikap menyanyi dan menari, meski dia ingin berperang dengan sebilah pedang pusaka yang tercipta dari lidah apinya. Gending gamelan dan instrumen cybernics dimainkan.
Jrek jrek nong! Jrek jrek gung! Blakdug blaknong! Blakdug blakgung! 1)
Serta-merta alam mayapada meriah. Kedasih dan kedidi perak beriang ria mengitarinya. Kuncup-kuncup kusuma serta-merta mekar semerbakkan aroma wewangi sana-sini. Mentari berloncatan dengan derai girang membahana raya.
“Langen Kirana, hoiiii! Langen Kirana! Lihatlah, Kirana! Lihatlah seisi alam semesta bersukacita atas dirimu!”
“Aku tahu, Mas. Aku tahu. Jangan berhenti. Majulah! Berperanglah, Bahadur!”
“Bagus kalau begitu. Kini sihirlah naga yang sedang diperbudak libido itu dengan tarian elokmu. Rontokkan sisik-sisik peraknya dengan nyanyianmu yang melengking-lengking menyembelih kesunyian. Ajisigarsrengenge… ajisigarsrengenge… Ini bukan sekadar performances art lho, Kirana!”
“Iya, Mas, aku tahu!”
“Baguslah. Sementara kamu menyanyi dan menari, aku akan terbang bersama kuda bajaku ke arah naga laknat itu. Aku akan menikam belati suciku pada mata takaburnya.”
“Ya, aku akan menyanyi dan menari untukmu, untuk perang aduhai ini. Capededious, Mas Taparagaku!”
“Apa itu capededious?”
“Kini bukan saatnya bertanya-jawab, Mas. Lupakan saja arti harafiah ‘capededious’ itu. Kini saatnya kita berperang!”
Langen Kirana terus menyanyi dan menari. Nyanyian yang membakar semangat juang Taparaga; tarian yang menjalari olah kanuragan Taparaga. Langen Kirana terus menyanyi dan menari. Terus dan terus. Debu-debu kristal beterbangan. Sinar-sinar azure berpencaran. Asap sejuta nusa cendana menyeruak ke segala penjuru mata angin, melintasi tujuh lautan, menerjang hidung, menyumpal pipa pernafasan, membius pikiran-pikiran. Badai beracun yang menghanguskan.
Sementara di sebelah kiri cakrawala atau beberapa kilan menyimpang dari diagonal pandang, tampak berlaksa-laksa laskar cyborg-kavaleri berjaga-jaga di atas kuda-kuda baja terbang bertanduk tunggal mereka. Tombak baja dan senjata cybernics bersandingan di samping mereka. Elang-elang hitam baja bersliweran sembari menelurkan bencana ke atas manusia-manusia.
Sangkakala-sangkakala bersahut-sahutan. Seruan perang berkumandang.
& & &
Babarsariyogya, 2003
Keterangan:
1)Cuplikan geguritan “Nonton Wayang” karya Thanding Sari
[cerpen ini dimuat di harian sore Sinar Harapan, edisi Sabtu, 12 April 2003]
posted by agustinus at 7:32 AM
NEGERI PANTAT ABU
Tiba-tiba nyaris seluruh penduduk pedalaman Negeri Pantat Abu berbondong-bondong menuju balai adat rakyat sambil membawa bendera warisan penjajah mereka dahulu kala, Negeri Bunga Angin, menari mirip orang kesetanan dalam alunan gendang sembari mengacungkan senjata perang berupa panah dan tombak.
Kosakay berdiri di muka barisan. Mereka menuntut kemerdekaan. Selama ini mereka menuduh pemerintah pusat, yakni Negara Rajawali Raya, tidak ubahnya sosok penjajah gaya baru, yang telah menguras habis kekayaan Negeri Pantat Abu tanpa peduli pada kesengsaraan rakyat Negeri Pantat Abu.
Kali ini mereka betul-betul sudah tidak sabar. Para pejuang dari rimba pedalaman Negeri itu bersemboyan "bikin dulu, bicara kemudian". Mereka sudah muak dengan kata-kata bersayap dari kalangan pejuang kemerdekaan dari wilayah kota serta pesisir yang selama ini terjebak di meja perundingan dan selalu berputar-putar di situ. Pejuang dari pedalaman itu tidak sudi bangga, hormat atau mengemis restu merdeka kepada pemerintah pusat Negara Rajawali Raya yang selama ini menjadi induk berbangsa-bernegara.
“Tak ada kisah tentang kemerdekaan di seluruh dunia ini yang diberikan karena orang datang mengemis kepada pemerintah kolonial,” teriak Kosakay di atas podium. “Kemerdekaan harus direbut dengan jalan menendang musuh dan kolonialisme keluar tanpa syarat. Mereka sudah membunuh kita seperti binatang, tapi kenapa kita-kita ini malah memberi hormat, salut dan merengek-rengek minta restu merdeka dari mereka. Minta kemerdekaan pada orang yang giat merendahkan martabat orang Pantat Abu?”
“No way!” yel-yel mereka.
“Kita ini manusia! Kita punya harga diri! Punya martabat!” sambut yel-yel lainnya menggelorakan panas terik yang menyengat kulit.
“Dan, kita punya kekuatan!” balas Kosakay lagi. “Kita harus berjuang sampai mati! Selagi satu orang saja rakyat Pantat Abu masih hidup, perjuangan kemerdekaan Negeri tidak akan lenyap ditelan kekuatan penjajah Negara Rajawali Raya beserta kroni-kroninya yang berasal dari Pantat Abu berkhianat dan bangsa Barat!"
***
Negeri Pantat Abu menuntut kemerdekaan, lepas dari Negara Rajawali Raya. Negeri Pantat Abu? Jorok sekali, “pantat abu”. Tidak. Sebenarnya itu hanyalah akibat julukan sebagian orang, kemudian dibesar-besarkan oleh hasutan sehingga malah dianggap sebuah pelecehan sejak jaman nenek moyang. Negeri Pantat Abu. Begitulah.
Negeri ini berada di atas gunung beku dan di antara awan-gemawan. Segenap tanahnya digenangi oleh gunung-gunung emas yang memukau dunia. Tetapi entah dari mana muasalnya, negeri bergunung-gunung emas ini mengalami pengkotak-kotakan wilayah dengan beragam sebutan. Misalnya "gunung-pesisir", "utara-selatan", "kepulauan kecil-tanah besar", dan "penjual tanah Negeri-korban penjualan tanah Negeri." Hebatnya, sampai kisah ini muncul, kotak-kotak yang disebut "konflik dalam negeri Pantat Abu" ini belum pernah dibereskan. Ironisnya lagi, penduduk pedalaman atau orang-orang gunung selalu berseberangan pendapat dengan penduduk pesisir pantai.
“Orang-orang pesisir itu pengkhianat, penjilat, plin-plan, peleceh sesama, cari selamat sendiri,” tuding penduduk pedalaman atau penduduk yang selama ini bermukim di gunung-gunung keemasan. “Mereka suka pindah kampung, pindah pendirian, tidak menetap, orang yang tidak punya prinsip yang jelas, mudah dipengaruhi penjajah, bisa dibeli dengan uang dan kedudukan. Orang pesisir itu ahli menjual kawan, bisnisnya bernama PT Pembunuhan Orang Gunung, dan juga CV Penghilang Orang Sarung Burung.”
“Orang-orang pedalaman itu buta huruf,” balas penduduk pesisir sebelum akhirnya mereka semua berkumpul di situ. “Mereka orang tidak bisa diajak berunding, Cuma suka bicara perang, angkat parang, tidak tahu berjuang secara diplomatis, suka berlama-lama menyandera orang, suka membunuh para pendatang, berpikiran sempit, jalan pikirannya tidak jelas, bodoh, tidak tahu menata bangsa, bikin malu sesama bangsa Pantat Abu saja’.”
***
Matahari kekar leluasa membakar bumi Pantat Abu, menghanguskan patung-patung tumpang-tindih yang bertengger di kanan-kiri gapura masuk balai adat rakyat. Di sana terlihat dominasi penduduk pedalaman atau orang-orang gunung Negeri Pantat Abu. Mereka berpakaian tradisional. Laki-laki hanya bersarung burung, dan perempuannya berok lalang. Tabiat mereka yang terkenal galak dan buas, kali ini tetap ditampilkan. Kosakay pun melepaskan atribut modernisasi.
Sementara di sisi pelataran terlihat beberapa penduduk pesisir yang sudah menggunakan pakaian masa kini. Kemeja atau kaos, celana kain atau jins, sepatu kulit atau sepatu olahraga, sandal kulit atau sandal jepit. Penduduk pesisir cenderung tampak lebih moderat dalam berbusana. Mereka lebih sering diam seraya membolak-balik pikiran.
“Hidup Negeri Pantat Abu! Merdeka! Merdeka!” teriak salah seorang dari kelompok pesisir.
“Tunggu dulu, wahai kawan dari pesisir!” teriak Kosakay mewakili kalangan pedalaman. “Apakah dukungan dan perjuangan kalian ini sebenarnya semata-mata berarti uang dan kedudukan?”
Seluruh hadirin terperangah.
Suasana tegang mulai mencekam ketika Kosakay melanjutkan, “Kita bongkar saja dulu, sebelum menjadi ‘duri dalam daging’. Apa boleh buat, sebab sudah banyak bukti mengenai pengkhianatan orang-orang pesisir. Kalau pejuang-pejuang dari pesisir itu diberi uang dan kedudukan, langsung kebuasaan sebagai ciri bangsa Pantat Abu lenyap begitu saja. Mereka langsung berbicara berbalik prinsip.”
“Buktinya mana?” teriak orang pesisir. Suasana bertambah gaduh.
“Dengar, akui ini! Kalian sering bilang, ‘perjuangan ini harus gerilya, bawah tanah. Suruh kawan-kawan di hutan sana itu untuk tahan diri dulu’. Kalian selalu menghindar perjuangan bersama, hai orang-orang pesisir yang pengecut!” seru Kosakay.
Lalu dia menyebutkan nama-nama orang pesisir yang berkhianat, yang sampai hari ini menjadi pergunjingan yang tidak sehat dan baunya membuat orang muntah, bahkan ada yang sudah dan akan mati akibat hal ini.
***
Ketidakpaduan kedua saudara kandung ini membuat jurang kesenjangan kembali terbentang. Mereka saling bicara masing-masing dalam kelompok mereka. Orang-orang pesisir saling bergunjing di antara mereka sendiri. Demikian pula dengan orang-orang pedalaman. Masing-masing merasa paling layak disebut pahlawan sejati paling berjasa yang kelak berhak mutlak memimpin kedaulatan Negeri Pantat Abu. Rasa kelayakan itu dihembuskan dengan cara merendahkan keberadaan penduduk wilayah lainnya sambil meninggikan diri mereka sendiri di atas penghinaan sesama saudara kandung.
“Kalau orang pesisir memimpin proses dialog dan mendeklarasikan diri sebagai Pimpinan Tertinggi Negeri Pantat Abu,” kata Kosakay dalam bisik-bisik di kalangan pedalaman, “jangan biarkan itu terjadi. Jangan sampai mereka merampas posisi raja Negeri Pantat Abu, perdana menteri, anggota wakil rakyat, gubernur, bupati. Jangan sampai mereka mendapatkan paha-paha putih bersama-sama dengan hotel mewah!"
“Dasar orang pesisir!” desis lainnya dalam pergunjingan kelompok pedalaman. “Mereka memulai gaung ‘Pantat Abu Merdeka’, membuat lembaga khusus, dan membuka mata seluruh penduduk Negeri Pantat Abu untuk memerdekakan diri.”
Orang-orang pedalaman membuka sejarah masa lalu. Orang-orang pedalaman saling berbisik lagi. Menurut orang-orang pedalaman, orang-orang pesisirlah yang mula-mula menjahit bendera “bintang benderang” serta merancang lambang Negeri Pantat Abu. Orang pesisirlah yang bergerilya melalui konferensi ini-itu. Orang pesisirlah yang semula mengajar orang pedalaman berkonfrontasi dengan Negara Rajawali Raya. Orang pesisirlah yang mencetuskan proklamasi 13 Juli 1971. Orang pesisirlah yang membuat Serikat Rakyat Pantat Abu berhasil menikmati kelimpahan dana sehingga mereka bisa bertahan di hutan saja.
“Sialan betul orang-orang pesisir itu!” celetuk seseorang di antara penduduk pedalaman. “Waktu kita belum mengenal kain dan baju, waktu kita masih buta huruf dan belum mengenal pendidikan yang baik, tiba-tiba saja orang-orang pesisir menularkan wabah “Pantat Abu Merdeka” itu ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke hutan-hutan pedalaman.”
“Ya! Setelah kita di pedalaman mengidap wabah makar tersebut, mereka sekarang malah berbalik mengutuk kita orang pedalaman. Mereka balik menjual kita, membuat Negara Rajawali Raya memburu kita. Ada banyak tentara, polisi serta aparat pemerintah Negara Rajawali Raya yang berasal dari pesisir Negeri Pantat Abu. Justru mereka memperlakukan orang pedalaman secara biadab dan tidak manusiawi. Ini bukan barang rahasia lagi!”
Orang-orang pedalaman merasa diri mereka diremehkan. Kosakay jengkel sekali. Ternyata dendam yang bersemayam dalam hati itu mengakar dan menumbuhkan pohon kebencian. Mereka menganggap orang pesisir menghina diri mereka dengan sebutan “kaum kampungan yang terbelakang”. Mereka merasa diri mereka tak lain adalah pupuk bagi kebun orang pesisir, dan makanan orang pesisir. Sehingga dukungan kemerdekaan dari orang pesisir justru dinilai oleh orang pedalaman sebagai usaha untuk menambah pupuk bagi kebun-kebun orang pesisir.
“Sebentar mereka bicara baik. Tapi kalau mereka marah, mereka akan segera melapor ke Biro Mata-Mata Rajawali Raya,” guman suara orang pedalaman.
Lagi pula, bisik yang lainnya, kalau orang pesisir diberi jabatan, orang-orang itu akan memberitahu kepada penguasa pusat Negara Rajawali Raya untuk memburu hingga membunuh orang-orang pedalaman lagi. Orang-orang pesisir akan mengajak prajurit-prajurit Negara Rajawali Raya masuk Negeri Pantat Abu, melaporkan persembunyian gerombolan pembangkang dari pedalaman, lalu prajurit-prajurit itu malah akan membumihanguskan orang-orang pedalaman.
*****
Perbedaan pendapat seringkali berakar dari konflik kepentingan. Konflik kepentingan seringkali pula tidak jauh-jauh dari kepentingan mencari selamat dan rejeki sendiri, serta berebut memperoleh sebutan ‘pahlawan kesiangan’. Untuk menjembatani konflik antar saudara kandung sebangsa setanah air itu, wakil-wakil mereka yang berpendidikan pun akhirnya membentuk Dewan Penghubung Kesatuan Seluruh Rakyat Negeri Pantat Abu. Kosakay tidak termasuk dalam keanggotaan.
Dewan ini merupakan ‘ruang bedah’ untuk menemukan sumber penyakit perang saudara yang sudah terpatri sejak jaman purba. Sementara ini dewan menemukan bahwa sebab-musabab pertikaian berasal dari perbedaan letak wilayah, sistem pemerintahan wilayah dan adat-budaya. Apabila pertikaian dari perbedaan ini dipelihara bahkan dibiarkan menggerogoti sendi-sendi kehidupan tiap-tiap wilayah, justru akan menjelma menjadi bumerang bagi usaha kemerdekaan Negeri Pantat Abu. Juga tentu saja sangat berbahaya bagi perkembangan, perbaikan dan pembangunan Negeri yang kelak merdeka dan berdaulat.
Dari dewan inilah diperoleh istilah pengkotak-kotakan “gunung-pesisir”, “pedalaman-perkotaan”, "utara-selatan", "pulau-tanah besar", "penjual tanah Negeri-korban penjualan tanah Negeri”, dan “pejuang pengasingan-pejuang di dalam”.
"Mengapa kalian membagi diri demikian?" tanya Kosakay, mewakili kaum pedalaman.
"Bukan membagi diri. Bukan mengkotak-kotakkan diri sendiri,” jawab ketua dewan. “Kita tidak terbagi secara politis. Melainkan hanya secara ciri-ciri permukaan, karakter, kecenderungan-kecenderungan, dan terutama secara geografis."
Bisik-bisik merembak kembali di kalangan rakyat pedalaman dan pesisir. Mereka meninjau ulang asal muasal orang-orang yang duduk di kursi dewan itu. Mereka menemukan bahwa yang gencar bicara soal ‘jalan tengah’ dan ‘kesepakatan’ itu ternyata dari kalangan putera pribumi yang sudah sekian lama hidup di luar negeri. Kalangan tersebut mereka sebut ‘pejuang dari pengasingan’.
“Orang-orang dari pengasingan selalu mengatakan bahwa perjuangan mereka lebih berbobot, lebih intelek, lebih kontekstual, lebih berkualitas daripada kita-kita yang di tanah negeri,” tukas Kosakay kepada kepala kaum pedalaman. “Mereka seringkali sok memberi komando dan petunjuk kepada kita-kita di dalam negeri. Sewaktu kita-kita melakukan kesalahan, misalnya, kawan-kawan di luar negeri itu sering berusaha mencuci tangan. Jikalau kita-kita berbuat baik, mereka mengaku-aku andil di dalamnya.”
“Tetapi apa yang mereka bikin di luar negeri sana?” gugat seorang lagi. “Cuma duduk manja di pangkuan paha-paha putih sampai lupa gadis-gadis negeri sendiri!”
“Benar! Mereka selalu ingat negeri-negeri luar, sampai lupa perjuangan negeri sendiri,” ujar Kosakay.
“Sedap menyantap roti sampai benci ubi lagi. Sukanya tidur nyenyak seraya bikin anak. Kita cuma dijadikan sebangsa babi hutan. Kejam, bukan? Tunggu kelak kita merdeka, baru kita tanya mereka yang ada di kota dan di luar negeri itu, ‘kamu sebenarnya dari mana; dari muka bumikah, atau dari planet manakah’. Biar mereka beri bukti perjuangan mereka!"
Sekonyong-konyong terdengar teriakan lantang, “Woi, Ketua Dewan! Jangan coba-coba mau tipu kami dengan segala kecanggihan perundingan ini!”
“Ya! Jangan coba-coba mau tipu kami!” sambung lainnya. “Kami butuh merdeka segera, bukan kembali menuai segudang janji-janji usang bikinan penjajah purba Negeri Bunga Angin, penjajah baru Negara Rajawali Raya, penjajah semesta alam Negeri Kanibal, dan persekongkolannya dengan para pengkhianat dari Negeri Pantat Abu sendiri. Makan ini kami punya kutukan dalam panah-panah dan tombak-tombak beracun!”
Sontak kemufakatan akbar di balai adat rakyat itu berubah menjadi ajang perang saudara secara terbuka, dipicu ketidakpuasan, kecurigaan, dendam masa lalu, iri hati, luka lama merekah, ambisi menguasai, nafsu meraih gelar pahlawan paling sejati dan silau atas kemilau gunung-gunung emas yang menjulang di seluruh pelosok tanah Negeri Pantat Abu. Kosakay tak tinggal diam terpukau. Ia pun terlibat di sana.
Perang itu mengingatkan banyak orang kepada perang suku yang menjadi ciri khas pergaulan di sana.
*******
jogjakarta, agustus 2001
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 29 Juni 2003]
posted by agustinus at 7:27 AM
TERPASUNG
Dua tahun berlalu kakek tua yang dijuluki “Semar Mesem” oleh para tetangga itu turun dari singgasananya. Dia bukanlah raja. Bukan titisan raja Majapahit, Mataram, Tumapel, Demak, Sriwijaya, Singasari, Samudera Pasai, Kutai, Ternate atau raja-raja manapun yang pernah dan ada di nusantara ini. Dia adalah orang biasa-biasa saja yang bermental heroik. Mentalitas yang menjadikan dirinya sanggup menjelma lebih daripada kekuasaan raja-raja masa silam.
Tridasawarsa lebih dia mendiami rumah itu; rumah yang berkolam susu-madu, berlantai mutiara, bersokoguru jati berukir naga menantang mega dan beratap permata. Leluhurnya kakek peot ini adalah kaya raya. Tanah berhektar-hektar dan harta karun bertimbun-timbun. Tambak udang berhektar-hektar pun dia punya. Untung saja tidak terdeteksi sebagai pengidap sakit otak udang. Sebagai orang tua yang bijaksana, para leluhurnya telah mempersiapkan segala sesuatu bagi masa depan dinasti keluarga, supaya tidak lagi dirampok orang lain dan antara keturunan tidak terjadi iri hati.
Orang tua ini mengerti seberapa banyak harta karun leluhurnya. Dia ingin memiliki semua, dia ingin menikmati semua. Tapi dia juga ingin selalu dihormati sampai si penghormat jadi mirip udang matang. Pokoknya tidak ada yang boleh membusung dada dan memandangnya sebelah mata.
Di usia senjanya sekali pun, dia berani sekali berkonfrontasi dengan apa saja. Dengan kewibawaannya, dia mengerahkan para algojonya untuk menumpas Naga Merah dan Naga Hijau. Waktu itu terkenal dengan Operasi Menumpas Naga. Tapi si Naga Bonar tidak dihantamnya, sebab naga satu ini jinak dan jenaka. Tidak mungkin ngamuk minta kapling di nirwana.
Orang tua ini pernah berpikir, “Dunia harus tahu dan takluk, bahwa akulah pemilik tunggal rumah-rumah ini. Apa pun yang ada, akulah yang layak mengaturnya. Aku bebas berbuat sehendakku!”
Kepada para pembantu dan pengawalnya yang berambut cepak-berbadan kekar, ia mendikte mereka supaya selalu berjaga-jaga atas segenap harta karun yang ada. Padahal dia masih punya saudara yang jumlahnya bejibun. Para sanak-saudaranya itu tidak diberi kesempatan untuk ikut mengelola bersamanya, sebab kakek tua ini sangat serakah. Bila terdengar kasak-kusuk sanak-keluarganya, dia tidak segan-segan menjebloskan mereka ke penjara atau ke pulau angkasa.
Selama tridasawarsa dia menguasai penuh rumahnya. Selama dia memegang kunci rumah ini, siapa pun yang dicurigai berkhianat akan dihukumnya terlebih dahulu, tanpa peduli apapun yang sebenarnya terkandung dalam diri mereka. Sejak bayi hingga berusia lima puluh lima tahun anak-anak ini terpasung dalam batas-batas lantai yang dijaga ketat oleh para algojo.
Setelah tridasawarsa menjadi pemimpin rumah tangga, saatnya dia harus memberikannya kepada saudara-saudaranya yang lebih muda untuk mengatur rumah ini. Sebab dia sudah kepayahan. Yang membuatnya terus ingin bertahan adalah kekayaan, kemegahan dan tepuk tangan kekaguman orang-orang.
Tapi sekarang di sudah tidak sanggup lagi mengatur rumah ini, karena kondiri fisiknya. Orang tua ini menyerahkan kunci rumah kepada sanak-saudara lainnya. Ini pun dikarenakan oleh ketidakbecusannya menangani rumah tangga. Betapa tidak. Dalam merawat bayi mungil, dia menyerahkan tugas tersebut kepada laki-laki yang selalu memegang senjata dan bersepatu lars. Semua anak beserta bayi diberinya celana monyet.
“Saya himbau kepada para pembantu agar supaya bekerja sebaik mungkin. Dikarenaken oleh sebab mereka sudah semangkin susah ditindas. Mereka tidak boleh merongrong wibawa daripada saya, tuan daripada rumah ini. Setiap ada kerusuhan, akan saya gebuk!” pesan dan perintahnya kepada para pekerja.
Suatu ketika ada yang kedengaran merengek pilu, seorang pembantu bergegas menemui kakek peot itu, “Tuan, si buyung bernyanyi lagi.”
“Selesaiken!”
Maka satu kata perintah cukup bisa diterjemahkan oleh si pelapor ini. Kata “selesaiken” diartikan sebagai beranguskan. Jadilah mulut si buyung ditanggalkan.
Sementara bila yang lainnya merengek karena lapar atau digigit nyamuk, para pengasuhnya segera membawanya ke peraduan anyun-ayunan berupa tiang gantungan. Kalau masih saja ada yang meraung-raung hingga kedengaran tetangga, dia akan menjejali mulut anak-anak ini dengan geranat. Bisa jadi, sarapan pagi adalah nasi pelor, makan siang berupa daging manusia dan makan malam berupa mimpi buruk.
Tapi syukurlah, dia terpaksa harus menyadari dirinya yang sudah uzur dan harus menikmati kursi goyangnya.
“Aku serahken kunci daripada rumah ini kepada Saudara yang layak dipercaya dan tidak lupa untuk memberiken tepuk tangan kepada saya dalam setiap deklamasinya di depan daripada kelas,” katanya di hadapan sidang keluarga.
Si penerima kunci ini tersipu-sipu dan bola matanya lari ke mana-mana. Dalam hati dia berpikir, aha, akhirnya…
Mendengar dan menyaksikan acara serta-merta terdengar tangisan, teriakan, jeritan dan raungan anak-anak. Bising sekali. Lebih parah.
Anak-anak di rumah ini menangis, menjerit, merengek-rengek dan merajuk sekuat tenaga minta diberi kebebasan. Sudah terlalu lama mereka dikurung di ranjang kayu jati. Sudah terlalu lama mereka dipasung dalam balok-balok beringin. Mereka ingin turun dari ranjang tua itu. Mereka mau lepas dari pasungan yang tidak layak itu. Mereka ingin turun dari rumah panggung menuju halaman luas untuk bermain sebebas-bebasnya. Mereka ingin menempati rumah-rumah yang telah disediakan oleh leluhur mereka, yang selama ini dikuasai seutuhnya oleh sang kakek peot itu, meski masih satu keluarga besar. Sangat maklum, sebab selama 55 tahun kemerdekaan mereka dibelit celana monyet. Selama 55 tahun terpasung? Bisa dibayangkan betapa jiwanya terganggu!
“Bagaimana bisa bayi-bayi raksasa itu mengurusi rumah yang megah-mewah itu, ya?” kata para penjaga mantan pemilik tunggalnya.
Para pembantunya kewalahan. Apalagi satu sudah berhasil lari keluar rumah dan keluar pagar, bermain dengan tetangga. Mereka minta petunjuk. Sambil terus memakai celana monyet, mereka mendatangi bilik kakek peot itu.
Tetapi belum lagi sampai, mereka ditahan oleh pasukan warna-warni.
“Eit, berhenti dulu, Adik-adik TK!”
“Kami bukan anak TK,” jawab mereka.
“Lantas, itu celana monyet dan selalu cari bapak?”
“Pakaian ini pemberian bapak. Kami semua beserta anak-anak yang kami rawat diberinya pakaian seperti ini. Bapak kami baik. Makanya kami ke sini lagi, mau minta petunjuk atas rewelnya anak-anak itu. Mungkin mereka minta baju monyet lainnya.”
“Emangnya siapa, hah, minta petunjuk segala!” bentak seseorang.
“Petunjuk nenekmoyangmu?!” bentak yang lain.
“Hei, ‘si’ yang lagi mabuk status quo,” tegur seseorang lagi. “Kalian ini sudah 40-60 tahun, sudah tidak ngompol lagi, sudah tidak runges lagi, kenapa masih bercelana monyet dan tergantung petunjuk bapak untuk mengurusi anak-anak berusia 55 tahun?”
“Makanya kami butuh petunjuk kepada yang lebih tua lagi.”
“Lebih tua lagi?”
“Lho, ‘kan belum berarti dia tidak bisa memberi petunjuk,” bantah mereka.
“Mungkin begitu. Tapi dia sekarang bisu, dan seperti bayi.”
“Bisu? Seperti bayi?”
Oh, iya ya. Kalau orang dewasa dan berpengalaman ‘kan pasti tidak sukar bicara, bisik hati orang-orang. Dulu, orang bisu saja bisa bicara karena mukjizat. Tapi sekarang orang bisa bicara tiba-tiba jadi bisu, apakah berarti ini pun mukjizat? Atau malah karena kutukan? Mereka saling bertanya-jawab lagi.
Lho, yang kemarin ikut di acara orang nganten dan bicara dengan uwak haji itu, siapa? Mungkin juga seorang bayi yang belum lancar melafalkan kata-kata.
Mereka beranjak ke ruang audiovisual di sudut istana itu. Mereka memutar film pertemuan bersejarah itu. Orang tua yang katanya telah bisu itu kelihatan tersenyum khas. Tapi kalau dia tertawa, orang-orang sekitarnya tutup mata dan hidung. Lho, apa pasalnya?
Mereka ingin tahu lebih detail. Layar diperlebar. Ternyata di dalam mulutnya telah membusuk dan berulat. Penuh belatung! Mungkin akibat jaman jaya-jayanya mulutnya terlalu banyak mengumpulkan sampah-sampah dan kotoran kehidupan, bahkan mungkin telah makan ribuan manusia. Hal ini jelas terlihat dari respon lawan orang sekitar pembicaraan itu, yaitu mereka tutup mata dan hidung. Juga setiap keluar dua-tiga patah kata, serta-merta orang tutup telinga rapat sekali. Mungkin yang terdengar adalah jampi-jampi atau lolongan jiwa-jiwa mati sia-sia. Dan lidah orang tua ini sudah kelu, sebab terlalu berat menampung tipu daya dan kutukan.
Tapi mereka masih penasaran. Kedua kelompok beda visi itu bergegas mendatangi uwak haji, minta konfirmasi yang transparan tentang kebenaran “apakah lawan bicara uwak haji tadi adalah orang yang dulunya selalu dimintai petunjuk, tapi kok kini jadi bisu dan jadi bayi peot begitu. Apakah akibat reformasi, ataukah dikutuk leluhur karena kemaruk”.
“Uwak, dia itu ‘kan berpuluh tahun dikejar-kejar dewi pembawa pedang dan timbangan?”
“Seperti yang terlihat itu.”
“Apakah dia memang bisa diseret untuk dimintai petunjuk dan segala perbuatannya bisa ditimbang-timbang? Apakah dia telah menyogok pengadilan Allah?”
Uwak Haji diam sejenak, lalu menjawab, “Seperti yang kalian lihat.”
“Bagaimana selanjutnya, Uwak? Apakah bakal dirajam karena menzinahi dosa?”
“Serahkan saja pada Allah dan para malaikat-Nya. ‘Kan penghakiman akherat itu adil, dan sifatnya kekal. Dia mau diapain kek, ya terserah kebijakan Allah. Apalagi di sana itu jelas pengacara berkaliber malah jadi terdakwa, dusta mereka sia-sia. Gitu aja kok repot amat sih.”
Mereka saling pandang. Apa lagi yang sanggup jadi bahan pertanyaan, karena uwak haji selalu menjawab tanpa beban, “gitu aja kok repot amat sih”. Mereka bubar setelah mendengarnya. Kedua kelompok berpencar kembali. Yang satunya selalu bingung karena tidak lagi punya petunjuk, sedangkan yang lainnya tetap merajuk akan terus menyeret bayi peot itu dan menempatkannya di hadapan dewi keadilan. Ada yang merajuk sambil mengamuk, ada yang minta bantuan bapak-bapak yang lain. Sedangkan orang tua berjuluk “Semar Mesem” hanya tersenyum senantiasa melihat hiruk-pikuk orang-orang di televisi.
Di tempat lain, anak-anak sudah sibuk dengan rumah barunya. Mereka berusaha untuk menata perabotan dan menghidupi para pembantu yang cocok. Ada pula dalam satu rumah berebut kursi, berebut celengan berupa babi gemuk yang bloon, dan berebut main di lumpur kubangan babi kampung. Hebatnya, semua orang yang ada di rumah itu ternyata masih bercelana monyet dan masih suka merengek.
*******
babarsarijokja, 2000
[cerpen ini dimuat di harian Bangka, edisi Minggu, 25 Juni 2000, dan dimuat oleh harian Sijori Mandiri tanpa ijin atau sepengetahuan penulis, edisi Minggu, 23 Februari 2003]
posted by agustinus at 7:26 AM
MEMBAKAR BULAN
Bulatan bulan perlahan memudar dalam sapuan awan pukul satu setengah malam. Oji tengah lahap menikmati sajian mi instan Indomie di warung Didin. Sementara jalan memanjang di depan warung hingga ujung tampak hanya satu atau dua orang yang melintas. Lengang. Penduduk pinggiran kota ini sedang bersiap-siap berlayar menuju lautan mimpi. Tak ketinggalan paduan suara kodok dari sepanjang parit dan bentangan beberapa petak sawah diantara bangunan-bangunan baru untuk pondokan mahasiswa pendatang atau usaha perdagangan.
Tengah malam beranjak lewat bersama sepinya kegiatan kaki lima. Tinggal satu-dua pedagang kaki lima bersama anak buah mereka. Itu pun mereka sudah berkemas-kemas hendak pulang setelah mengisi malam bersama kebutuhan mulut orang. Gerobak panjang berisi perkakas makan dan perkakas masakan, terlihat menanti di pinggir jalan untuk siap diantar pulang.
“Kelak yang tanding, siapa, Jo?” tanya Ngadino sembari menggulung tali tenda.
“AS Roma lawan Inter Milan,” jawab Paijo yang asik menikmati rokok filternya.
“Wah, seru nih!” timpal yang lain.
“O, jelas! Kedua kesebelasan calon kuat scudetto tahun ini,” kata Paijo.
Celotehan mereka tak sanggup menerjang sepi yang memang sudah seperti malam-malam lampau. Kaki lima-kaki lima lainnya sudah bubar sekitar jam sebelas malam tadi. Ada tenda yang tersisa, dibiarkan mengangkangi trotoar. Atau sekadar kerangka-kerangka kaki lima yang berdiri tegar di situ sampai tenda digelar kembali esok senja. Juga meja-meja kayu, cukup dirantai dan dikunci gembok kecil, berada di pinggir trotoar dekat selokan atau terselip di pagar.
Mereka juga tidak terlalu peduli soal limbah dari kegiatan bisnis mereka malam itu. Sampah-sampah berupa plastik, kulit jeruk, sayur busuk, tulang ikan-ayam, nasi bekas dimakan pembeli dan lain-lain, tampak berceceran di atas trotoar dan di parit kecil yang airnya selalu mengalir menuju sawah-sawah yang tersisa. Padahal besok, apabila mentari terik memanasi alam di situ, bau limbah itu segera merebak di sekitarnya. Belum lagi jika melihat kondisi parit yang kotor dan penuh lumut berbentuk aneh, menambah kesan jorok, kumuh. Padahal sepanjang jalan itu merupakan salah satu kawasan kampus, termasuk keberadaan beberapa kampus universitas swasta yang cukup terkenal.
“Ayo, lekas, kita pulang,” kata Ngadino. “Jangan kelamaan kayak orang nunggu Krisdayanti turun dari langit.”
“Ya, ya,” sambut yang lain sambil beramai-ramai mendorong gerobak panjang itu.
Belum beberapa langkah, cahaya merah menerpa wajah mereka. Tampak lidah api membesar, membuyarkan kekelaman malam bisu itu. Mereka menyaksikan kayu-kayu dan meja-meja sebuah warung kaki lima terbakar. Apinya melanda ke mana-mana. Untung saja memang sudah sepi sekali. Kecuali, beberapa orang pemuda tampak sedang berdiri di sekitar tempat tersebut.
Para kaki lima berhenti sebentar. Mereka menonton peristiwa itu sambil berjaga-jaga atas gerobak mereka. Tapi setelah melihat siapa-siapa yang melakukan pembakaran tersebut, dengan santai mereka mendorong gerobak mereka lagi. Sementara dari arah selatan nampak sebuah sepeda motor melaju. Dua orang berboncengan. Keduanya tercengang sesaat, lantas perlahan menormalkan perasaan mereka.
“Apa itu?!”
“Ah, paling-paling kompornya meledak,” ujar seorang yang lewat, kepada kawannya.
Keduanya lewat saja sambil menghidupkan prasangka liar. Lalu menuju ke sebuah warung bubur kacang hijau yang beroperasi 24 jam non-stop. Di warung itu keduanya menebarkan prasangka tadi. Tak pelak beberapa orang di dalam warung berhamburan keluar, hendak melihat api yang masih terus melambai-lambai di sana.
Api memang masih melambai-lambai, menjulang hingga tiga meter. Beberapa pemuda tadi terlihat santai. Tidak ada yang panik. Semua seperti pemandangan biasa. Tidak ada yang berusaha menolong memadamkan api. Atau, barangkali merupakan potret kehidupan individualis yang mulai merambah daerah ini.
“Rasain lu!” guman Didin. “Udah diperingatin, masih aja nekat.”
“Emang udah diperingatin?”
“Ya, iyalah. Kira-kira dua bulan lalu warung kaki lima itu pernah dibakar.”
“Dibakar?”
“Iya, kira-kira jam segini juga. Kukira tadinya cuma frustasi gara-gara jualannya nggak laku-laku. Ternyata dibakar orang.”
“Masalahnya apa?”
“Kalo nggak salah, gara-gara jualan minuman keras dan makanan haram.”
“Ooo...”
Didin segera kembali ke warungnya. Ia tidak tertarik berlama-lama menyaksikan kebakaran yang memunculkan aneka penafsiran itu. Begitu juga yang lainnya, segera masuk kembali ke warung bubur kacang hijau. Menikmati sajian bubur kacang hijau hangat beserta obrolan-obrolan yang juga sedang hangat, rasanya lebih menyenangkan tatkala dingin malam menyengat syaraf-syaraf tubuh.
Kecuali Oji. Kebetulan mahasiswa perantauan yang suka begadang ini sudah selesai makan mi instannya, dan membayar. Ia berjalan santai menuju lokasi pembakaran. Oji lebih tertarik untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa daripada membiarkan tafsiran-tafsiran liar berhamburan. Cocoknya kelak ia bekerja sebagai anggota tim pencari fakta, bukan sebagai komentator yang makan dari hasil prasangka dan ramal-meramal.
Dengan naluri ingin tahunya, Oji bertanya ke salah seorang di sekitar api itu, “Ada apa, kok terbakar?”
“Kami bakar, Mas. Pasalnya, mereka menjual makanan dan minuman haram,” sahut seorang pemuda setempat yang ikut aksi pembakaran tersebut. “Kami sudah memperingatkan mereka, tapi mereka nggak menggubris peringatan kami. Dulu pernah kami bakar. Eee, mereka dirikan lagi usaha sejenis. Ya kami bakar lagi.”
“Daripada hanya debat kusir, bakar aja beres,” sambung yang lain.
“Kalo mereka berani macem-macem,” celetuk seseorang yang membawa pedang terhunus, “kusikat pakai pedang ini!”
Wajah-wajah mereka memancarkan angkara yang tidak kenal belas kasihan apapun sepanjang aksi. Aksi itu mereka sebut sebagai gerakan moral. Tidak ada kompromi. Mereka bangga sekaligus garang dengan aksi mereka.
Oji tidak berkomentar. Ia menatap api yang meratap. Minuman dan makanan haram itu mengingatkan Oji pada kampung halamannya yang berpenduduk fanatik. Di sana beberapa pemudanya sering berpesta minuman keras dan mengisi dompet dengan hasil-hasil kriminalitas. Perjudian pun lestari dalam aneka variasi, termasuk judi buntut yang digemari sejak puluhan tahun. Ada juga keluarga yang hidup dari hasil mencuri. Oji prihatin. Sebatas prihatin, tidak lebih. Sebab, toh mereka menikmati dan turun temurun.
Tapi, yang ada di depannya kali ini sungguh berbeda. Orang-orang muda ini tampak tidak kompromi. Mereka melakukannya dengan semacam gerakan moral yang diejawantahkan melalui aksi pembakaran. Selain itu, dulu, pernah pula gerakan serupa, diejawantahkan melalui aksi perampasan barang-barang yang dianggap ‘haram’ dan dibumbui aksi kekerasan. Apa saja yang mereka cap ‘haram’, segera akan menjadi berita ancaman serius bagi orang lain. Paling tidak, sebuah mimpi buruk sebagai peringatan.
Oji langsung teringat sesuatu. Tidak ada seratus meter dari tempat tersebut, tepatnya seberang jalan agak ke utara sampai sekitar tiga meter, di situ terdapat rumah kontrakan yang beralih fungsi menjadi rumah bordil.
Kala malam hari Oji menikmati batagor di sebuah warung kaki lima dekat situ, dari dalam warung itu ia seringkali melihat mobil patroli polisi singgah sejenak di rumah bordil itu. Pedagang batagor pernah bilang, setiap sekitar jam delapan malam mobil patroli polisi datang ke situ. Cuma sebentar, lalu segera pergi. Ternyata mengambil jatah keamanan sebesar lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu rupiah per malam dan tiap satu unit rumah bordil.
Oji bingung. Antara jual-beli miras dan jual-beli zinah, apakah ada perbedaan kategori haramnya? Kenapa ada perlakuan yang berbeda terhadap keberadaan tempatnya?
Pemuda-pemuda yang membakar warung itu pasti tahu, bahwa sang mucikari rumah mesum itu setiap malam patuh membayar upeti kepada aparat keamanan bersenjata yang juga setiap malam berpatroli seraya menarik pungutan liar di tempat-tempat sejenis. Bisnis esek-esek yang sudah bertahan lebih dari sepuluh tahun di rumah kontrakan itu berhadapan langsung dengan sebuah bangunan ibadah di seberangnya.
“Bagaimana dengan jual-beli perzinahan di situ?” tanya Oji sembari menunjuk sebuah rumah kontrakan di seberang jalan.
Beberapa orang itu menoleh ke arah telunjuk Oji. Tidak ada jawaban. Tidak ada komentar. Tidak ada tanggapan yang meluap-luap seperti ketika mereka bersemangat menghakimi warung kaki lima tadi. Mereka tiba-tiba beranjak pergi begitu saja setelah api mulai surut.
Oji heran. Angin malam perlahan-lahan merengkuh tubuhnya.
Di langit sana bulan telah hangus.
*******
babarsarijogja, april 2002
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 12 Mei 2002]
posted by agustinus at 7:25 AM
KADO ISTIMEWA UNTUK DIES
Mentari pagi menampar mukaku lewat jendela markas kami, tempat kami melakukan kegiatan ekstrakurikuler bidang pers mahasiswa. Sontak aku terbangun sembari mengucek mataku. Aku ingat, hari ini adalah dies natalis kampus. Beberapa jam lagi kami akan merealisasikan rencana yang selama beberapa hari kemarin dan terakhir dini hari tadi telah kami putuskan untuk melaksanakannya. Dan, dies natalis kali ini pasti bakal heboh dan berkesan bagi para tamu undangan.
“Huahoohahhaaaaah,” aku menguap untuk membebaskan sisa kantukku sembari kuangkat kedua tanganku. Nyaman rasanya pada persendianku.
Sisa dingin masih membelai pori-poriku dan menyengat syaraf di sela kulitku. Kulirik arloji di lengan kiriku. Baru pukul setengah tujuh. Masih cukup pagi. Aksi kami dilaksanakan sebelum pukul sepuluh nanti. Kutengok sebentar ke arah ruang tengah yang lantainya beralaskan karpet murahan milik salah seorang kawan. Tampak kawan-kawan, rekan mahasiswa, masih tergeletak nyenyak di lantai itu.
Sudah hampir satu minggu ini kami menginap di markas kegiatan ekstrakurikuler kami. Beberapa kawan malah sudah menjadikan markas ini sebagai tempat tinggal gratis, tidak lagi memiliki kos. Kami sungguh-sungguh merasakan bahwa kampus adalah rumah kedua. Di markas ini kami tinggal seperti di rumah atau kos sendiri.
Aku juga kerapkali tidur di situ. Kosku yang kubayar setiap tahun tidak lebih dari sebuah gudang dan tempat bersalin. Komputerku pun sudah kuangkut ke sini, karena fasilitas komputer yang diberikan kampus telah kadaluarsa teknologinya. Betapa tidak kadaluarsa. Kecanggihan komputer sudah sampai Pentium 4, kampus malah memberi tipe 346 alias komputer ‘jangkrik’. Kampus boleh disebut swasta megah yang bonafid, tapi benar-benar pelit.
“Jam berapa, Noy?” tanya Mawot tiba-tiba seraya mendongakkan kepalanya.
“Setengah tujuh lewat dikit.”
Lalu Mawot tergeletak lagi. Berusaha untuk menyambung mimpinya. Tapi aku yakin, dia pasti tidak akan bisa melanjutkan lelapnya. Kubiarkan dia menghabiskan sisa-sisa lelahnya. Atau, mengingat-ingat apa kelak tugasnya.
Aku terbayang lagi apa yang beberapa malam suntuk hingga menjelang subuh kami bicarakan. Rencananya akan diikuti oleh sekitar seratus mahasiswa intern. Masing-masing wakil mendapatkan kesempatan, peran dan apa yang akan disampaikan. Soal SPP, dana kegiatan ekstrakurikuler, para pejabat adminitrasi yang korup, beasiswa yang salah arah, fasilitas operasional, dosen plagiat, rencana pembangunan proyek mercusuar, dan meninjau ulang laporan pertanggungjawaban rektor. Jam sepuluh kelak kami sudah harus bergerak.
“Kita nanti melewati jalan raya menuju gedung rektorat. Seperti biasa,” kata Dodo de Mello semalam. Ia yang memimpin pergerakan unjuk rasa ini.
“Siiip!” kami sepakat dan rapat berakhir menjelang subuh.
“Hoahhaaaaahom,” aku menguap lagi.
Aku malas keluar markas. Kubuka komputerku. Aku ingin main game dulu, solitare. Gampang. Tidak usah susah-susah berpikir. Kutengok sebelah komputerku. Teronggok segelas kopi sisa dini pagi tadi. Isinya pun tinggal separuh. Mungkin juga sudah sempat diseruput cecak. Aku tak peduli. Kuambil dan kutenggak. Kopinya sudah dingin sekali.
***
Poster-poster telah siap digelar. Terbentang di teras markas. Tulisan dan karikatur berpadu. Turunkan SPP! Gambarnya sebuah bangunan menjulang yang menggilas tubuh orangtua murid. Mahasiswa bukan sapi perah! Gambarnya karikatur rektor tengah memeras mahasiswa mirip orang memeras kain basah. Beasiswa itu ternyata bukan milik mahasiswa jelata! Gambarnya mahasiswa bermobil yang menerima beasiswa. Recall Dosen Plagiator! Gambarnya karikatur seorang dosen yang memakai toga dan mengempit skripsi milik mahasiswanya. Bersihkan Kampus dari Para Tikus! Gambarnya karikatur beberapa pegawai administrasi yang diduga terlibat aksi mencomoti dana yang sebenarnya telah dialokasikan bagi kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler tiap unit kegiatan mahasiswa.
Aku cukup puas dengan hasil coretanku sendiri. Kawan-kawan sangat menyukai gambar-gambar satir yang menggelikan semacam itu.
“Jam berapa, Noy?” tanya Dodo de Mello.
Aku langsung menaikkan tanganku dan melihat arlojiku. “Jam sepuluh kurang seperempat,” jawabku.
“Siap semua?” teriak Dodo.
“Siiiip!” jawab serentak kawan-kawan.
Maka kami pun mulai bergerak. Dodo de Mello, Hasto, Emmykus, Elcid Esjus, Agung, Bagong, Fajar, Benny, Anto, Mawot Mawut, Evi Takmalas dan lain-lainnya, termasuk aku, berarak dari menuju gedung rektorat, melewati jalan raya sekitar kampus. Sebelah pinggir-pinggir rombongan memakai pengaman berupa tali plastik panjang. Aksi ini bersifat internal dan berskala lokal, bermotif moral seutuhnya. Kami tidak mengundang mahasiswa luar unjuk diri di even ini, kecuali demonstrasi berskala regional dan nasional.
Hasto dan Agung bernyanyi keras-keras dengan megafon, memlesetkan lagu Si Gembala Sapi. “Rektor kami si gembala sapi / peras kami setiap hari / ye piye ye piye ye piye / itulah kerjanya si pemeras kami / cuma sibuk dengan duit kami.”
Plesetan lagu itu kami ulangi lagi sembari terus berarak. Setengah lebar jalan kami penuhi. Otomatis jalanan jadi agak macet. Untung saja ada dua satpam kampus yang membantu mengatur lalu lintas. Kami tetap berbaris rapi, tidak menghabisi badan jalan. Aksi kami pun selalu tanpa diselingi adegan membakar ban atau merusak fasilitas umum.
Di beberapa sudut nampak anggota intel, memantau kami. Mereka biasa, tapi HT itu tetap nyata siapa mereka. Sebentar-sebentar ada gerakan melaporkan perkembangan kegiatan. Kami tidak peduli, tidak terintimidasi. Apalagi kami sudah terlalu sering bertemu dengan mereka setiap kami menggelar aksi. Saling kenal, kayaknya.
“Kami, rakyat, sudah darurat. Sakit gawat, sakit berat. Kami sekarat!” seru Bagong sambil diperagakan oleh Wisnu dengan penampilan orang kepayahan, setengah mati-nyaris mati.
“Rektor kami bukan dokter yang memberi obat!” sambung Emmykus. [Di pinggir jalan beberapa dosen muda dan asisten cekakak-cekikik seraya berkomentar, “Emang kampus rumah sakit?”]
“Malah uang kami disikat! SPP meningkat, melebihi gedung bertingkat!” teriak Hasto sangat histeris. [Para dosen muda dan asisten yang cekikikan tadi tambah berkomentar di antara mereka, “Disikat? Emang rektor tukang bersih kamar mandi?” Dan yang lain menimpali, “Abis elo-elo miskin nekat kuliah sih.” Mereka cekikikan lagi. Sialan.]
Perjalanan tidak terlalu jauh. Beberapa satpam lainnya segera muncul. Bukan untuk menahan kami, sebab hampir setiap hari kami bergaul dengan mereka bahkan beberapa di antara mereka sering kali malam-malam mengunjungi markas kami hanya demi menonton film blue yang kami tonton ramai-ramai. Mereka muncul untuk mengatur lalu lintas.
Rombongan kami mengalir masuk gerbang halaman rektorat. Di teras megah gedung rektorat, jajaran elit kampus tampak tidak siap menyambut aksi dadakan kami. Bapak-bapak dan ibu-ibu itu tampak kebingungan. Mereka tidak pernah mengira bahwa kami akan mengadakan unjuk rasa yang mengatasnamakan seluruh mahasiswa. Biasa kurasa, klaim-klaiman segelintir orang dengan mengatasnamakan semua orang. Sementara para tamu undangan begitu asyik melihat acara di luar agenda undangan.
“Bapak Rektor yang terhormat, Bapak-bapak Perek alias Pembantu Rektor beserta Ibu-ibu yang suka menutup mata atas kebutuhan rekan-rekan aktivis kampus,” kata Dodok memulai dialog terbuka. “Setiap tahun ajaran baru SPP kami naik, mirip harga-harga barang dan harga gengsi elit politik. Sedangkan gaji orang tua, jalan di tempat. Setiap tahun sekian persen kami harus menambah jumlah pembayaran, sedangkan realitasnya apa?”
“Dosen-dosen luar mengajar seenak perut!” teriak Emmykus seraya maju menggantikan Dodo de Mello. “Jarang ngajar, arogan, sombong minta ampun, nilai pun pelit. Mereka cuma terpanggil oleh merdunya rayuan honor!”
“Fasilitas pendidikan tidak memadai,” dilanjutkan oleh Hasto. “Bangku dan peralatan sudah memprihatinkan. Barang-barang rusak masih terus dijejalkan di ruangan kuliah!”
“Kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa terimbas melempem!” teriakku keras-keras. “Pihak kampus berdalih macam-macam. Padahal menurut seorang karyawan administrasi, dana ada. Lantas, ke mana larinya dana-dana itu? Kenapa para pelarinya dibiarkan ongkang-ongkang kaki? Padahal pula kami dituntut untuk andil mengharumkan nama kampus dalam kegiatan-kegiatan kami!”
Rektor dan pembantunya segera berdiskusi kilat. Alis tengah Rektor menukik turun. Serius sekali. Suasana tegang nyata terukir di wajah-wajah para petinggi kampus. Sementara tiga rekan kami terus memperagakan atraksi teatrikal tanpa suara. Beberapa tamu undangan sangat serius memperhatikan aksi kami.
Akhirnya Pembantu Rektor dua tampil dan berbicara melalui microfon mimbar. “Soal garis besar keuangan, antara pemasukan dan penggunaan, sebenarnya telah kami bicarakan dengan wakil-wakil Adik-Adik sekalian.”
Kemudian Pembantu Pektor menjelaskan lebih mendetail, bahwa SPP mahasiswa mulai angkatan lama sampai mahasiswa baru itu berbeda jumlahnya. Dana operasional kampus tidak sedikit. Mulai dari urusan kantor, gaji dosen dan karyawan, membeli perangkat laboratorium, penyediaan komputer, buku-buku perpustakaan, menyekolahkan dosen hingga pengeluaran untuk kegiatan, jumlahnya tidak secuil. Begitu argumentasinya.
“Kami tidak merasakan fasilitas-fasilitas seperti yang Bapak Perek Dua katakan,” tangkisku lantang. “Atau, silakan Bapak periksa dalam data inventarisasi kampus dan laporan kegiatan tiap unit kegiatan. Ironisnya, Bapak Perek Tiga malah membuka unit kegiatan baru, unit borjuis. Otomatis dana untuk kegiatan tiap unit justru tersita demi unit borjuis dan prestisius kampus belaka! Betul-betul tidak rasional, betul-betul intelektual dangkal!”
Lalu Bagong maju, memaparkan pemakaian dana yang keliru lainnya. Dialog kian ketat. Sebab urusan uang adalah hal yang paling sensitif. Apalagi soal beasiswa, yang diterima justru oleh mahasiswa dari golongan ekonomi mampu. Kriteria “mampu” dan “tidak mampu” memang terlalu ganjil untuk ukuran kampus swasta besar dan mewah ini. Kawan-kawan yang menumpang tinggal di markas pun sebenarnya dari golongan ekonomi “mampu”, bukan “miskin” dalam arti semiskin-miskinnya. Selain itu, biaya kuliah awal semester saja sudah berjuta-juta. Kalaupun lewat program bibit unggul, rasanya sulit sekali, mengingat kuliah bukan cuma biaya awal dan satu-dua tahun. Kalau mengukur dari prestasi, bisa jadi tidak terus-terusan bagus, karena mahasiswa ini pun harus bekerja untuk menutup biaya-biaya lainnya. Sedangkan beasiswa pun pasti dibagi-bagi untuk ini-itu.
Tak kalah heboh manakala aku maju, mengangkat kasus kecurangan dosen, yakni plagiarism alias menjiplak skripsi mahasiswa untuk dimasukkan sebagai tesis guna meraih gelar “master” sang dosen. Bantah-membantah terjadi. Rekan kami tetap saja bisa mengantongi data, mulai dari judul skripsi, nama mahasiswa, nama dosen pembimbing, sampai kalimat-kalimat yang dituliskan.
“Etika pendidikan dan profesi model apa dengan amoralitas begini! Mana integritas seorang pendidik, seorang mahaguru itu? Omong kosong saja! Celakanya, pihak rektorat malah memelihara para plagiat keji itu sehingga berkeliaran menularkan wabah amoral ini. Kini yang ada hanyalah kapitalisme pendidikan yang mereproduksi binatang-binatang ekonomi! Gelar tak lebih dari sekeping kartu kredit guna meraup materi semata!” tandas Mawot tiba-tiba dari tengah barisan.
“Aku akan tuntut kalian atas tuduhan sembarangan ini!” tiba-tiba seorang dosen bangkit lantaran dia merasa inisialnya disebut-sebut. Matanya melotot. Jidatnya perlipatan. Dia begitu tersinggung atas dugaan ‘plagiator tesis’. Rektor dan ketiga pembantunya terkejut. Mereka jelas-jelas malu hati.
“Silakan Saudara Bapak Dosen memperkarakan kasus Saudara Bapak Dosen sendiri ke pengadilan,” sambut seorang demonstran berkaca mata. “Saya pun siap dengan gugatan balik, bahkan menuntut Saudara Bapak Dosen membuat pengakuan terbuka di media massa satu halaman penuh selama satu minggu penuh! Mudah-mudahan supremasi hukum tidak senasib dengan supermi, yang cuma jadi komoditas dan produk industri.”
Dosen tersebut segera keluar dari bangku tamu sambil mengajak istri dan anaknya pulang. Keringat resah terus membanjiri kening Rektor. Para tamu undangan lainnya tampak tersenyum-senyum. Barangkali acara dies natalis kali ini bertambah menarik bagi mereka yang memang bukan dari lingkungan kampus kami.
Kami tidak peduli. Kami terus menggugat tindak penyelewengan atau korupsi yang dilakukan oleh birokrasi kampus. Lagi-lagi, rekan-rekan kami memaparkan data dan fakta. Apa yang kami uraikan, paling tidak, bisa menimbulkan kecurigaan antara rektorat dengan karyawan pusat. Bukan maksud kami untuk mempraktekkan “devide et impera”, melainkan untuk mereformasi ketidakberesan para pejabat kampus mengenai “KKN” itu. Jangan sampai para penyelenggara pendidikan sendiri yang menyelewengkan visi luhur dunia pendidikan dan semena-mena mengatasnamakan otonomi kampus.
Juga pembangunan proyek-proyek mercusuar harus dihindarkan. Proyek ambisius dan prestisius bukan suatu kebutuhan mendesak dan sama sekali tidak berhubungan dengan proses belajar-mengajar. Kami mensinyalir proyek tersebut justru berbau korupsi yang dilakukan oleh pihak birokrasi dan kontraktor yang ditunjuk untuk melaksanakan pembangunan proyek tersebut. Selain itu, kami tidak mau pihak rektorat malah menanamkan bibit-bibit pemborosan dan kesombongan dalam diri anak didik. Sebab benih ini sanggup tumbuh subur menjadi pohon besar yang berskala nasional.
***
Tok! Tok! Tok!
Pukul sembilan pagi pintu markas besar kami diketuk.
“Kulonuwun.”
Aku bergegas bangkit dari tidur di atas bangku panjang. Badanku masih penat, setelah mempersiapkan, melakukan dan mengevaluasi aksi unjuk rasa dua hari lalu. Kutengok dari dalam, seorang karyawati kampus tengah berdiri di muka pintu. Tanpa sempat mematut diri, kubuka saja pintu markas. Aku tidak peduli jika aroma mulutku berbau naga.
“Ya, ada apa, Mbak?”
“Begini, Mas. Ini ada titipan surat penting dari kampus. Pareng.”
Surat panggilan untuk beberapa aktiviskah? Mengajak gencatan senjatakah? Aku bertanya-tanya sembari membuka amplop surat berkop logo universitas tersebut.
Sisa kantukku sontak lenyap tak berbekas ketika kubaca isi surat yang diantarkan oleh karyawati kampus tadi. Intinya, seluruh aktivis unit kegiatan diwajibkan segera mengosongkan sekretariat masing-masing selama waktu yang belum dapat dipastikan, karena bangunan yang menjadi pusat kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa ini hendak direnovasi.
Dari pintu markas kulihat kerumunan kuli bangunan di halaman depan. Mereka tengah menunggu rekan-rekan aktivis membereskan barang-barang dan meninggalkan tiap-tiap ruang sekretariat pagi ini juga, termasuk kami dan markas kami tentunya.
*******
babarsariyogya, 1999-2002
[cerpen ini ikut terpilih dalam Kumpulan Cerpen Terpilih Balairung 2002]
posted by agustinus at 7:24 AM
 Tuesday, August 12, 2003
PANASNYA PAGI
“Dasar bajingan!”
“Bunuh saja!”
Buk! Tok! Plak!
“Kalau mati?”
“Bagus mati wae 1)!”
“Eh, kalo mati, siapa yang bakal nyembahyangi?”
“Masa bodoh! Bantai aja dulu!”
“Tolooooong! Ampuuun, Mas!”
“Ampun matamu, ‘ Su 2)!”
Lalu pletak! Plak! Buk!
Walah! Pagi-pagi begini sudah pada ribut-ribut, pakai caci maki lagi, gerutuku. Orang tengah nyenyak-nyenyaknya menikmati puncak suasana pagi, diganggu.
Aku segera bangun, telanjur digugah oleh ribut-ribut di luar sana. Kukucek-kucek mataku, agar beloboknya gugur. Lalu aku bergegas keluar kamar. Serta-merta sinar surya pagi menyambutku dan juga menerobos pintu kamarku yang terkuak.
Di luar sana, di jalan depan kosku agak ke perempatan, suasana tampak ramai sekali. Caci maki berhamburan. Orang-orang berdatangan. Orang-orang bergerombol. Orang-orang berdesakan. Mereka mengerumuni sesuatu yang beraroma kekerasan. Beberapa kendaraan berhenti. Beberapa anjing ada di sekitarnya. Anak-anak yang mau berangkat sekolah pun malah berhenti sejenak. Semua menonton adegan kekerasan di pagi yang sejuk itu seolah menonton film laga atau tarung bebas di televisi.
“Iiih, kasihan ya,” bisik seorang gadis di luar arena kerumunan.
“Ho’oh. Padahal sudah minta ampun segala lho,” sahut kawannya.
Lima pemuda begitu beringas. Di antaranya ada yang membawa kayu. Ada pula yang sedang menendang badan bahkan kepala seseorang. Ada yang menghantamnya dengan benda tumpul sekeras tenaga. Yang lain bersiap-siap memukul lagi. Mereka bergairah sekali seolah berolah raga pagi. Caci maki pun terus terlontar liar.
Aku merangsek ke kerumunan orang-orang. Maka kutengok seseorang itu. Laki-laki muda. Tubuhnya terkapar dengan darah menodai pakaian dan kepalanya.
Seseorang di antara para penganiaya datang mendekati tubuh terkapar itu. Dia jongkok, lalu menjambak rambutnya. “Dasar bajingan! Nyolong barang milik kawan sendiri. Dasar maling, tetap aja maling! Asu tenan 3)!” makinya.
Lalu, buk! Muka maling itu dibenturkan ke jalan aspal. Darah meleleh lagi.
“Eh, asu ndak suka nyolong.”
“Lha yang ini asu edan 4)! Bajingan tenan!”
Aku yang telah trenyuh sejak kata-kata umpatan menggugah sisa tidurku dan ditambah caci maki itu, kini hatiku semakin remuk menyaksikan penghakiman jalanan mereka. Street justice ala pinggiran kota. Manusia sudah tidak berharga. Mirip tikus pasar yang kedapatan mencuri seekor ikan teri. Entah kesalahan, entah kebodohan, kenapa menjadikan dirinya sendiri sebagai maling. Pelecehan terhadap martabat sendiri, bukan cuma karena kekerasan orang lain. Walhasil, dia babak belur.
Pasti dia ini malingnya, tebakku. Pasti dia yang telah memancing kekerasan di kesejukan fajar. Pasti dia yang telah menyajikan sarapan pagi mengenaskan ini. Tapi, dia maling apa sehingga harus remuk-redam begitu. Mungkin maling duit, arloji, telepon seluler, jemuran, sepeda motor, tip dek bersusun tujuh, tipi, komputer atau kulkas.
“Maling apa dia, Ji?”
“Maling sandal, Naf. Pagi-pagi datang ke kos, pura-pura cari siapa.”
“Ya cari sandal itu!”
“Ndak tahunya, eeee nyolong sandal barunya Doddy!”
Aku tahu, maling itu memang pernah main ke indekosan kawanku. Pasalnya, dia masih satu kampus dengan kawanku, meski sebenarnya mereka berkawan jauh. Malam sebelumnya dia sudah berkunjung ke situ, diajak oleh kawannya yang lain. Si pengajak itulah yang justru satu kelas dengan salah seorang yang indekos di situ. Perkawanan berlanjut alami. Lazimnya orang muda berkumpul dan bersosialisasi, tidak akan disertai benih-benih kecurigaan. Apa yang patut dicurigai. Lagi pula, mana mungkin awal sebuah perkawanan akan segera diisi dengan prasangka-prasangka negatif. Tapi yang jelas, peristiwa tersebut terjadi juga. Penganiayaan.
Cuma gara-gara sandal? Aku geleng-geleng kepala. Bagaimana dia nekat melukar kemanusiaannya yang beradab menjadi maling, cuma gara-gara sandal? Alangkah rendahnya dia memandang hakekat manusia, sebuah ciptaan paling mulia di dunia. Ah, sayang sekali!
Itulah, hanya gara-gara sepasang sandal baru bermerek terkenal, trendi dan mahal. Hanya gara-gara benda yang setiap hari muncul di televisi dan terpajang di etalase toko sepatu. Sepasang sandal ternyata telah mempesona bahkan membius maling itu. Sepasang sandal bagus telah meremukkan muka dan tubuh mahasiswa maling itu.
Dan saat surya berseri-seri melambai di ufuk timur sana kekerasan telah nyata memulai hari dan menyambar pikiran segar manusia. Tentu saja manusia-manusia itu adalah para pelajar belia yang masih asyik menonton. Mereka pasti sudah merekam tontonan kekerasan yang hidup, tontonan bukan rekayasa siapa itu.
Caci maki. Pukulan bertalu-talu. Anggota tubuh terbentur benda keras. Jerit minta ampun. Air kencing. Darah. Aaaah… Aku tidak sanggup membayangkan apa saja isi kesadisan dalam otak segar para pelajar yang jelas-jelas menyaksikan setiap detail kekerasan yang dipraktikkan oleh beberapa mahasiswa tadi.
Aku tidak tahan lagi. Batinku terlalu lembut untuk mencerna kekerasan nan sadis itu. Aku membalikkan badanku, hendak meninggalkan mereka. Kuayunkan kakiku.
“Lho, Naf! Munaf! Mau kemana? Pesta belum bubar. Masih ada finalnya nih!”
“Final? Final apaan, Ji?” tanyaku sembari menoleh ke belakang, ke arah Oji.
“Kita ‘kan belum membakarnya. Doddy baru nyari bensin atau minyak tanah.”
“Jangan!” potongku. “Nanti perkaranya tambah parah!”
“Ya, jangan! Jangan khilaf begitu!” timpal seorang pria, entah siapa. “Hanya Allah yang berhak atas nyawa maling itu. Kalau kamu nekat melenyapkan nyawanya, niscaya kamu digugat di pengadilan akhirat!”
Oji tidak menggubris. Kawan-kawannya juga tidak peduli. Hati nurani entah telah kemana. Pikiran dan perasaanya entah kemana. Sedangkan aku semakin ngeri membayangkan jika mereka betul-betul jadi membakar maling malang itu hidup-hidup. Padahal orang itu hanya mencuri sandal. Berapa sih harganya sandal? Anggaplah sekitar dua ratus ribu. Cuma dua ratus ribu rupiah ia harus mengalami pengadilan begitu hingga harus ditebus dengan nyawa jika dibakar? Wah, bagaimana dengan yang sudah mencuri uang rakyat atau uang negara dengan jumlah ratusan juta sampai trilyunan rupiah? Ah…
Sang surya cemerlang menggelinjang di ufuk timur. Aku betul-betul tidak sanggup kalau harus menyaksikan suatu pembakaran tubuh secara hidup-hidup begitu. Kuputuskan segera pulang ke kosku. Terserah apa tanggapan kawan-kawanku itu. Mereka mau bilang aku seperti apa, aku tidak peduli. Selain itu, aku merasa tubuhku disergap gerah teramat sangat. Aku ingin mandi. Aku ingin menghapus serpihan-serpihan kesadisan dengan guyuran air dan tersapu sabun mandi. Aku tidak mau peristiwa itu menyelinap lewat pori-pori dan inderaku lantas menyatu dalam diriku.
“Mmm… ada apa, to, Mas?” tanya pacarku yang tengah mematut diri di depan cermin kamarku ketika aku sampai di kamar kosku. Tubuhnya berbalut handukku. Aroma sabun menyeruak dari tubuhnya dan menebar harum pada kamarku.
“Maling ketangkap basah.”
“Tadi Mas ndak cuci muka dulu?” tanyanya seraya menoleh ke arahku.
“Nggak. Males sih. Masih pagi juga. Lagian, mukaku masih tetap tampak lebih klimis kok, dibanding muka maling malang itu.”
Pacarku menggerakkan kepalanya dan mencibirkan bibir ranumnya padaku.
“Jadi, pesta kekerasannya rampung, Mas?”
“Belum. Oji dan Doddy mau membakarnya! Gila, nggak?!”
“Lho, itu ‘kan pembunuhan? Edan tenan! Ndak berperikemanusiaan banget.”
“Terserahlah. Urusan mereka. Biar mereka tanggung sendiri dosa mereka.”
“Mending Mas mandi dulu, mumpung belum siang banget.”
“Bener! Mending aku mandi. Terus, kita ehem lagi. ‘Kan asyik pas dingin-dinginnya pagi begini, sekaligus untuk sarapan dan olahraga pagi, Sayang,” kataku sembari mencium rambut lurusnya yang lentur nan harum semerbak lantaran ia habis keramas juga.
“Aaaa, Mas Munaf ini… Masih mambu 5), udah asal sosor aja!”
“Tapi suka, kan?”
Pacarku melotot. Sedangkan semangatku kembali bangkit membara melihat pacarku baru usai mandi dan harum begitu. Tadi, sewaktu aku keluar dan menyaksikan adegan kekerasan kawan-kawan, kulihat ia masih tergolek dengan busana minim di kasur busaku yang bersprei semrawut. Sudah dua malam rekan mahasiswiku ini menginap di kosku. Sebelum-sebelumnya ia sering juga menginap di kosku, apalagi kalau pulang kuliah atau juga usai kegiatan senat di kampus. Kosku memang bebas, karena induk semang tinggal agak jauh dari kosku dan tidak ada yang dipercaya menjaga kedisiplinan dan perilaku kos. Sesama penghuni kos pun tahu sama tahu dan tidak suka usil pada urusan orang.
Selanjutnya aku betul-betul sudah tidak peduli dengan nasib naas maling itu dan pembakaran semena-mena yang bakal dilakukan oleh kawan-kawanku di luar sana. Karena aku dan pacarku sudah lupa diri bahwasannya kami tengah berada dalam gelora api neraka perzinahan di sejuknya pagi.
*******
babarsariyogya, september 2002
Keterangan:
1) wae = saja
2) Su berasal dari kata “asu” = anjing
3) Asu tenan = Anjing betul
4) Asu edan = Anjing sinting
5) Mambu = bau.
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 3 Agustus 2003]
posted by agustinus at 3:57 PM
|